Cari Blog Ini

Jumat, 30 April 2010

Kepingan Silam

Lo pasti pernah menyimpan barang-barang ga berguna di laci. Entah laci meja belajar, laci di bawah televisi, laci di meja rias, dan laci-laci lainnya. Termasuk, laci ingatan. Belakangan ini gue membongkar laci ingatan gue. Ternyata ada beberapa kepingan silam yang enggan gue buang. Betapa pun berkarat dan suram kepingan itu. Itu adalah masa lalu gue sebagai wartawan.



Emak gue jelas enggan mendapati anak bungsunya yang baru lulus apoteker dengan gilang-gemilang malah berniat jadi wartawan.
Emak : “Buat apa kamu kuliah 5 tahun sama praktikum kalau cuma buat keluyuran nodong-nodong pejabat?”
Gue : ”Anakmu ini ingin melihat dunia, Mak. Bukan ketemu tabung reaksi dan ramuan-ramuan palsu lagi.”
Emak : ”Yo wis nduk, tapi ga selamanya kamu keluyuran gitu tho?”
Gue : ”Nggih mboten, maknyak.”
Minggu-minggu pertama gue jadi wartawan, setiap malam emak menelepon dan bertanya gue dimana. Kalau gue jawab masih di kantor di pukul sembilan malam, pasti ia langsung nelangsa. Oh, emak yang baik, betapa durhaka anakmu ini. Apalagi kalau gue manjat pager kos jam satu atau dua pagi lantaran deadline, plus diteriaki maling sama cowok-cowok brengsek kos sebelah, gue makin merasa durhaka sama emak gue yang janda itu.

Sampai suatu hari waktu ada nyonyah besar dari Amerika datang berkunjung ke negeri ini, emak menelepon dengan girang.
Emak : “Hiiii, mak tadi liat kamu di tipi. Wah, kamu cuma berapa meter saja dari Nyonyah Ngamrik dan Pak Menteri lho. Jaan hebat tenan, wis kamu jangan keluyuran mblusuk ke kampung atau kali lagi ya?”
Gue : “Hehehe, sekarang di Politik mak. Gak mblusuk ke kali lagi kok. Itu dulu di Humaniora. Tapi kan seru bisa motret kemiskinan.”
Emak : “Hayyah, wong bocah adus ning kali wae kok seru. Ora elit kuwi.”

Gue setahun lalu, kira-kira seperti itu. Tiap pagi kalau ketemu adik kelas gue di gang kos, gue dikira masih jadi pengangguran. Dengan kostum jeans dan sepatu keds, kaum farmasis narsis sering bertanya :”Mau ke kampus ya, Kak? Mau legalisir ijazah ya?” Semprul!

Atau kalau gue ketemu dosen :”Kerja dimana kamu sekarang?” Dan ketika gue jawab jadi wartawan, mereka berjengit dan menganggap gue alien. Yah, gue akui dari dulu gue memang hobi jadi alien.

Semua baik-baik saja, sampai suatu hari bos besar tersandung kasus. Titanic mulai karam, dan sebagai orang waras, gue ya nyari sekoci dong. Gue sempat berpikir gue salah perhitungan, gue menolak posisi reporter dari sebuah majalah politik terbesar kedua di negeri ini sebelum si bos besar ditangkep polisi.
Gue : “Bang, saya bingung nih, pilih masuk situ apa gak ya?”
Resi Daulay : “Kamu masih muda. Kalau di majalah itu, kamu hanya jadi newsgetter. Kalau di koran, kamu tetap bisa liputan setiap hari dan ketemu banyak orang. Lagipula, pos kamu sekarang kan sudah bagus.”
Lalu ada komentar lain lagi…
Gue : “Mendingan gue pilih G apa M ya?”
Pacar temen gue : “Pilih jadi buntut kakap apa kepala teri?”
Gue : “Gue maunya kepala kakap.” :D

Akhirnya, gue pilih keluar dari jurnalisme karena letih dengan omong-kosong dan lakon politik. Gue masuk ke sarang kapitalis, ke sebuah kantor farmasi milik asing. Dan gue pun tidak betah berlama-lama disana. Sampai akhirnya, gue jadi CPNS di BPOM. Bukti dari ketidakwarasan gue. Emak tentu saja senang dengan ini. Anak hilang kembali pulang.

Nah, kutu-kutu loncat alumni rongsokan Ampera akhir-akhir ini bergosip. Ada jin Ifrit yang akan membangun kembali puing-puing itu.
Gue : “Tau ga, gue tadi sebelahan sama engkong-engkong di KRL Ekonomi AC. Tu engkong taunya bilang kantornya mau ditutup. Lagi nego harga sama Gramedia. Taunya dia ngasi gue koran X dan koran Y. Buset, kenapa gw dibayang-bayangi kisah media yang kolaps melulu sih?”
Jeng N : ”Lu mending. Gue diteror mulu ni, ditanyain mau balik apa ga kalo jin Ifrit bangun M lagi.”
Gue : ”Hah? Lu mau balik lagi kesono?”
Jeng N : ”Yaaa, kalo posisi gue menguntungkan sih, bisa dipertimbangkan.”
Gue : “Haha, lu minta aja minimal jadi redpel sono.” :D
Jeng N : “BM Diah gimana ya kalo tau M sekarang jadi gini.”
Gue : “Auk deh, ngamuk-ngamuk kali ye.”

Lalu obrolan lainnya,
Gue : ”Hoiii, kapan mulai lu jadi gupermen?”
Calon Camat : “Tau neh, katanya NIP gue bakal keluar Mei. Gue ga berharap di kecamatan atau kelurahan. Bisa bego gue.”
Gue : “Wahaha, mau dong kalo lu di kelurahan. Gue mau nembak KTP Jakarta aah.”
Calon Camat : “M katanya mau bikin tabloid sama portal tuh. Kita jadi kontributor aja disitu yuk. :D “
Gue : “Mang bisa ape PNS sekaligus wartawan?”

Eh tapi gue inget-inget lagi, kan di kode etik PNS ga ada tuh larangan jadi wartawan. Yang dilarang tuh gabung parpol dan melakukan tindak kriminal.
Masih ada lagi,
Jeng N : “M begitu mempesona ya. R dan D pas gue kasih tau kalo M mau hidup lagi, malah bilang mau ngajuin diri mereka sendiri.”
Gue : “Emang apa bagusnya? Gue sih kangen mie rebus depan kantor itu doang. Wahaha.. Gak deng, gue juga kangen. Karena itu pekerjaan pertama gue. Dan gue ga akan lupa betapa Pak T nerima gue tanpa tes apapun. Gile, main insting doang tu orang pas wawancara gue.”
Jeng N : ”Kalo gue, karena itu pekerjaan pertama gue yang tetap. Dan M ngajarin gue banyak hal, untuk berusaha memercayai yang menurut gue ga mungkin terjadi. Termasuk untuk belajar ikhlas ketika ia akhirnya kandas.”
Gue : “Cep..cep..jangan sedih dong..”



Begitulah, kutu-kutu M juga tetap melanjutkan hidup, mengisap darah dari daging-daging segar lainnya. Ada kelompok kutu yang setia dengan jurnalisme, ada yang di biro konsultan media, ada yang merumput di pabrik tekstil, ada yang wiraswasta, ada yang jadi aktivis, ada yang baru mantu, ada yang S2, ada yang jadi siluman, sampai ada yang saking stresnya jadi PNS (kok yang terakhir ini kayak kenal ya? :D)

Sampai sekarang gue masih dapet undangan-undangan liputan. Diskusi politik, ekonomi, sampai dari TNI juga masih dapet undangan. Pernah malem-malem gue ditelpon ekonom.
Ekonom : “Mbak Sitta, sekarang dimana?”
Gue : “Di kos pak.”
Ekonom : “Maksud saya, di media mana.”
Gue : “Oo, saya di farmasi pak. Udah gak di media lagi. Kenapa pak? Ada undangan diskusi? Nanti saya forward ke temen saya deh pak.”
Ekonom : “Enggak kok. Saya cuma bingung, kok udah lama ya mbak ga nelpon saya buat minta statement.”
Gue : (**krik..krik..krik.. kasian amat ni ekonom, gak laku lagi apa ya??**)

Sering gue sedih dan mikir, gue bisa gak ya nyamar jadi wartawan mana kek gitu. Gue cuma pengen dengerin seminar atau diskusi ini itu. Jujur, kadang gue kangen juga kok sama semua omong-kosong itu. Gue juga tetap berteman dengan beberapa kutu M. Maksudnya ketemuan dan kongkow gitu lah. Sawang sinawang jalan hidup masing-masing.

Nah, gimana dengan lu semua? Kutu-kutu M.. gue kangen lu semua secara resmi (maksudnya I’m officially missing you.. :D )…heheee…


Dari note FB :
http://www.facebook.com/hy.surya#!/notes/sitta-taqwim/kepingan-silam/381811644421

Rabu, 28 April 2010

Koloni Belanda, Koloni Bakteri, dan Beri-Beri



Kalau saya bertanya pada beberapa teman : “Apa yang terlintas di benakmu tentang Belanda?”. Mayoritas menjawab penjajah. Banyak juga yang menjawab kincir angin, bunga tulip, kanal, sampai Holland Bakery. Akhir pekan lalu saya bertemu seorang teman yang mencoba melucu. Katanya ada pekerjaan yang enak dan digaji mahal di Holland Bakery. Saya langsung ngiler membayangkan roti-roti yang lezat. Saya tanya apa lowongan pekerjaannya? “Niupin kincir angin di toko Holland Bakery,” katanya seraya tersenyum simpul. Hehe, tapi apa pun yang terkait Belanda, memang sulit dipisahkan dengan negeri ini. Suporter Persija yang memilih kaos warna oranye, apa juga ada hubungannya dengan tim sepakbola Belanda? Aduh, jadi tak sabar menanti Piala Dunia bulan Juni nanti.


Salah satu frase yang kerap ada di buku-buku sejarah : ‘zaman kolonial’. Saya iseng mencari makna koloni di kamus Tesaurus Bahasa Indonesia karangan Eko Endarmoko, arti koloni adalah permukiman, dominion, jajahan, kekuasaan, protektorat. Sementara di dunia mikroba, koloni adalah kumpulan mikroorganisme dalam luas area tertentu. Dan tentu saja, mikroba-mikroba itu merdeka, tidak merasa terjajah sama sekali. Bahkan saya yakin, bakteri dan kapang di cawan petri yang pernah saya pelihara ketika penelitian tiga tahun lalu, bahagia sekali hidup di agar-agar dan puding jagung bikinan saya. Buktinya, setelah saya lulus lalu kapang-kapang saya itu dipelihara junior saya, banyak dari mereka yang ngambek, tidak mau tumbuh, bahkan mati. Sungguh saya sedih, demikian pula profesor pembimbing penelitian saya. Rasanya, mungkin seperti kehilangan anak sendiri. Hehe, hiperbolis ya?



Salah satu isolat kapang yang masih terselamatkan. Penicillium purpurogenum, penampakan makroskopis kapang yang menghasilkan pigmen merah ini (kiri) dan penampakan mikroskopis dengan perbesaran 1000x (kanan), ia saya foto dengan kamera handphone merek Sony Ericson (maklum, mahasiswa kere..^,^ ).



Sejak dulu, saya pecinta Biologi, karena saya ngeri dengan matematika dan fisika. Penelitian untuk kelulusan saya di bidang Mikrobiologi Farmasi. Tiba-tiba saya terkenang, ada alat yang tak bisa saya lupakan jasanya selama penelitian itu. Mikroskop. Dan kalau bicara mikroskop, maka saya ingat sebentuk nama, Leeuwenhoek. Antonie van Leeuwenhoek (1632-1723), seorang Belanda yang menemukan mikroskop dan memberikan gambaran mengenai bakteri atau organisme sel tunggal.


Leeuwenhoek dan mikroskopnya membuat saya menyadari ada kehidupan lain di luar sana. Ada jagat mikroba-mikroba yang rendah hati dan tidak pongah. Mikroba-mikroba itu, sebetulnya bisa saja menjajah ketika kita lengah. Ketika kita jorok misalnya. Tapi mikroba itu juga bisa bermanfaat, dengan asam laktat, enzim-enzim, antibiotik, dan metabolit sekunder lainnya yang mereka hasilkan. Apa enaknya tempe tanpa kapang Rhizopus, oncom tanpa Neurospora crassa, keju tanpa Lactococcus lactis , dan kecap tanpa Aspergillus.


Selain untuk mengintip para mikroba, mikroskop juga ibarat mesin waktu yang mengantarkan kita pada jejak-jejak kehidupan kayu tetumbuhan. Sebuah preparat mikroskop adalah teka-teki yang harus dipecahkan, pesan rahasia yang harus disampaikan.


Struktur anatomi jaringan kayu genus Fraxinus berusia satu tahun yang digambar Leeuwenhoek.


Saya penasaran, kira-kira apa yang membuat Leeuwenhoek mencipta mikroskop dan iseng memicing-micingkan bola matanya menyibak rahasia setetes air kolam? Kalau Sulaiman bisa berbicara dengan hewan-hewan, Leeuwenhoek mungkin ingin berkomunikasi dengan mikroba-mikroba itu. Menitahkan koloni mikroba untuk tunduk di bawah kaki ilmuwan. Leeuwenhoek yang iseng juga mengamati sel-sel darah merah dan sel sperma. Lucunya, Leeuwenhoek juga pernah main-main dengan biji kopi. Pada tahun 1687, ia memanggang biji kopi lalu mengirisnya menjadi potongan-potongan tipis. Tiba-tiba ia melihat ada rongga-rongga yang aneh dimana minyak mengalir keluar. Leeuwenhoek pun mengakhiri percobaan itu dengan merebus kopi yang ia utak-atik. Hehe, laboratorium dan dapur tak ada bedanya nih..


Selain Leeuwenhoek, masih ada Eijkman yang juga berjasa di bidang mikrobiologi. Setiap pagi, kalau berangkat ke kantor di daerah Salemba, saya selalu melewati bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di dekat RSCM. Christiaan Eijkman (1858-1930), adalah seorang dokter dan ahli patologi. Eijkman pergi ke Hindia-Belanda (Indonesia) pada tahun 1883. Ia menjadi tenaga medis di Semarang, Cilacap, dan Padangsidempuan. Selama di Hindia-Belanda, Eijkman melakukan riset mengenai wabah beri-beri yang saat itu melanda. Rumah Sakit Militer Batavia dijadikan laboratorium permanen dengan Eijkman sebagai direktur pertama. Eijkman kemudian menemukan penyebab beri-beri adalah kekurangan elemen dalam makanan pokok bangsa pribumi, yakni vitamin B―yang terdapat dalam kulit ari beras. Temuan Eijkman akan vitamin B, bersama dengan rekannya Frederick Hopkins membuahkan hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran di tahun 1929.



Leeuwenhoek (kiri) dan Eijkman (kanan)



Saya ingat kata-kata profesor mikrobiologi saya, bahwa masih sedikit sekali ahli mikrobiologi di Indonesia ini. Padahal kekayaan ragam mikroba di negeri tropis macam Indonesia sangat besar. Sementara Belanda adalah salah satu negara dengan penelitian di bidang biologi molekuler yang berkembang dengan pesat.


Kita adalah koloni bakteri yang merdeka. Penduduk Indonesia yang ratusan juta jiwa, bukankah mirip bakteri? Tinggal pilihan kita yang menentukan, ingin jadi bakteri yang seperti apa? Bakteri baik atau bakteri jahat, bakteri bermanfaat atau bakteri patogen? Yang jelas, bakteri itu oportunis. Bakteri punya suhu dan lingkungan tertentu untuk hidup. Misalnya, bakteri termofilik yang hanya bisa hidup di lingkungan panas –mirip orang Indonesia yang hidup di iklim tropis kan? --. Sebagai manusia, kadang-kadang kita sendiri oportunis juga kan? Pujangga Ronggowarsito pernah bilang : “Zaman edan, yen ora edan ora keduman.”


Beberapa orang berkomentar, “Kita dulu dijajah Belanda sih, coba kalau dulu dijajah Inggris.” Apa bedanya? Kalau mental bangsa ini sejak dulunya memang mental koloni, bukan mental penemu, maka sampai kapan pun bangsa ini akan menjadi objek yang diamati. Salah satu bukti mental koloni itu, misalnya pepatah Jawa : “Mangan ora mangan kumpul”. Eh, tapi bukan berarti saya anti bukunya almarhum Umar Kayam dengan judul sama lho. Kumpulan kolom Pak Kayam di harian Kedaulatan Rakyat itu malah salah satu buku favorit saya.


Opini lainnya, kesemrawutan sistem birokrasi Indonesia itu warisan birokrasi ala Belanda. Yah, sebagai abdi gupermen pun, saya mengakui betapa menyebalkan urusan surat-menyurat untuk sampai pada pihak yang dituju. Tapi saya berpikir lagi, seberapa jauh sejatinya sistem Belanda merasuk dalam raga negeri ini. Dan mengapa yang tertinggal itu yang buruk-buruk saja? Kalau virus influenza saja rajin bermutasi, dan bakteri E.coli bisa fleksibel jadi agen pembuatan macam-macam hormon dan enzim, kenapa kita dari dulu begini-begini saja?


Belanda, mantan penjajah kita yang negerinya rawan banjir itu, yang masih punya raja-ratu, masih giat mencipta. Selain mewariskan kenangan kolonial di tanah-tanah bekas jajahannya dan gedung-gedung berarsitektur khas, bangsa itu terus mencipta dan menggelinding. Kita, selayaknya jua terus menggelinding, bermutasi, dan tentu saja, mencipta.



The eye of human being is a microscope, which makes the world seem bigger than it really is.” – Kahlil Gibran



Tulisan ini juga ada di :
http://sittafiakhsanitaqwim.blog.friendster.com/2010/04/koloni-belanda-koloni-bakteri-dan-beri-beri/
dan
http://www.facebook.com/note.php?note_id=386679294421