Cari Blog Ini

Kamis, 06 Mei 2010

Sunyi Senyap Ibu

Pada 24 April lalu, saya dan seorang teman menonton pementasan teater Niniek L Karim dengan lakon Request Concert. Saya selalu menyenangi Mbah Niniek yang dimata saya, seniman yang rendah hati. Maksudnya, dia itu selalu tersenyum-senyum, mukanya jauh dari jutek ^,^ .. Saya ingat waktu peringatan hari lahir Sapardi Djoko Damono yang ke-70 di Salihara, Mbah Niniek membacakan karya SDD dengan mengenakan celana komprang dan sepatu keds hijau. Sungguh nenek yang lucu.

Ketika memasuki ruang teater, saya tidak tahu garis besar cerita yang hendak dipentaskan. Saya hanya berpikir pertunjukan itu dalam rangka hari Kartini. Pentas dimulai pukul delapan malam. Lima menit sebelum mulai, saya mengecek ponsel. Ternyata ibu saya menelepon 10 menit lalu. Saya tidak mendengar deringnya, dan ruang teater sudah keburu digelapkan. Saya tidak sempat menelepon balik ibu saya.


Ternyata pentas itu tanpa dialog. Saya yang ‘lemot’ dan tidak fokus di awal, masih berharap Mbah Niniek akan berkata sesuatu. Suara-suara yang ada hanya celotehan orang dan bocah-bocah khas suasana gang kampung. Saya suka sekali setting panggung yang detil, menggambarkan rumah seseorang yang tinggal sendirian. Ada tiga bagian dalam rumah petak itu, ruang tamu, ruang tidur merangkap dapur, dan kamar mandi. Mbah Niniek berperan sebagai perempuan pekerja yang kesepian.





Ia pulang ke rumah, memasukkan sepeda motornya ke ruang tamu. Lalu membuka helm, jaket, sarung tangan, dan mengganti sepatu dengan sandal jepit. Adegan selanjutnya adalah keseharian seorang perempuan yang hidup sendiri. Berganti daster pink, membersihkan muka, mandi, makan, menonton televisi, hingga mendengarkan radio. Tidak ada yang aneh dari akting Mbah Niniek. Semuanya wajar dan alami. Saya sempat berpikir : ”Wow, apa iya hidup saya membosankan seperti yang ditampilkan disitu?” Saya tinggal sendiri di sebuah petak selama nyaris tujuh tahun.


Waktu adegan Mbah Niniek menyulam kristik, saya teringat pada ibu saya. Saya pun berpikir, apa ibu di kampung halaman juga sama kesepiannya seperti Mbah Niniek. Berkali-kali Mbah Niniek melongok keluar jendela, mengecek ponsel―berharap ada SMS masuk, sampai saking isengnya, ia mengirim pesan pada penyiar radio Female. Saya tidak tahu siapa yang ditunggu Mbah Niniek disitu. Saya menduga ia tidak menanti suami atau anaknya. Ia hanya menanti ada seseorang yang bertamu, mengunjunginya, mengajak mengobrol, dan membunuh rasa sepinya. Ekspresi wajahnya begitu kosong dan sepi.









Sebelum tidur, Mbah Niniek memakai rol rambut dan menyiapkan pakaian kerja untuk keesokan harinya. Dalam kegelapan, ia mencoba memejamkan mata. Ia tak bisa tidur, lalu bangun dan terduduk di ranjang. Ia beranjak ke meja makan. Lalu meraih sebotol tablet, dikeluarkannya semua tablet. Ia menghitung, ada dua puluh lima butir. Ia genggam tablet-tablet itu. Mbah Niniek menoleh ke kanan dan ke kiri. Tangannya gemetar. Beberapa kali ia menolah-noleh, seolah ada orang yang bisa ditanyai atau memergokinya. Dan, ia tenggak kedua puluh lima tablet itu sekaligus. Selesai.


Saya masih terpaku. Teman saya bilang, kalau tidak bunuh diri, endingnya mau bagaimana lagi. Saat tepuk tangan membahana―Ayu Utami memberi standing ovation― Mbah Niniek kembali ke raut wajahnya semula yang lucu. Saya lega itu cuma teater. Tentu saja, memang apa alasannya seorang aktor harus bunuh diri beneran di panggung? :D Untung penontonnya lumayan banyak, jadi kan tidak kesepian betulan ya?





Anehnya, usai pentas, saya tidak langsung teringat pada ibu saya di rumah, yang tadi tertunda teleponnya karena pertunjukan itu. Saya malah mengobrol ngalor-ngidul dengan teman saya sampai pukul dua belas malam, hingga terpaksa pulang naik colt sayur lantaran sudah tak ada angkot lagi. Saya baru ingat ibu, kemarin. Kakak perempuan saya bilang, ibu menangis karena saya tidak bisa ditelepon. Padahal beberapa hari sesudahnya, saya tak sengaja menekan nomor rumah dan diangkat oleh kakak lelaki saya yang menyebalkan. Saya tutup lagi teleponnya karena saya malas berbasa-basi.


Pagi kemarin saya menelepon ibu. Ia girang luar biasa. Saya hanya merangkum cerita selama dua minggu, tidak, sebulan lebih, pada ibu. Ya, hampir sebulan lebih saya tidak bicara pada ibu, dan saya merasa biasa saja, bahkan tidak merasa durhaka sedikit pun.


Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang kesepian, karena saya belum menjadi ibu. Dan mengapa perempuan-perempuan bernama ibu itu, rela melahirkan hanya untuk ditinggalkan. Terkadang saya memang suka berpikir ngawur. Saya merasa tidak yakin akan bisa jadi ibu, karena saya tidak mau ditinggalkan anak-anak yang saya lahirkan suatu hari kelak. Seperti yang dibilang Kahlil Gibran : Anak-anakmu adalah anak panah dan bukan anakmu sendiri. Saya bukan pelontar anak panah. Saya mau menjadi pelempar bumerang, dimana mereka akan selalu kembali pada saya.



Saya bayangkan ibu setiap pagi bangun, ke pasar, memasak, tidur siang, berkebun, menjahit, membersihkan rumah, memberi makan burung-burung bodoh peliharaan kakak lelaki yang menyebalkan, bergosip dengan tetangga, menonton televisi, lalu tidur lagi di malam hari. Saya bayangkan setiap harinya seperti itu. Tidak ada suami, yang sudah pergi enam tahun lalu. Hanya ada dua orang anak lelaki tidak berguna, dan seorang anak perempuan di rumah. Sesekali ibu akan menjenguk cucu-cucunya di kota tetangga. Atau ia ikut kelompok pengajian, ziarah ke makam Wali Songo, sampai pernah, ibu sungguh iseng dengan ikut tur ke Gunung Kawi. Saya bilang pada ibu : “Titip pesugihan ya, Bu.” ;p


Ibu dan ayah, pertama kali bertemu di panggung teater remaja. Saya kaget waktu ibu pernah bercerita seperti itu. Sayang, teater itu cuma teater kampung. Alhasil ayah dan ibu tak bisa seperti Nano-Ratna. Kalau iya, pasti sekarang saya tidak akan menjadi PNS gila. Ah ibu, cuma ibu sendiri yang bisa memahami sepinya. Manusia tidak berbagi sepi. Dunia ini ramai, mirip pasar malam, kata Pram. Hanya saja, kita datang dan pergi, ke dan dari dunia ini, sendirian.


Sumber gambar : Facebook Salihara, situs National Geographic

Minggu, 02 Mei 2010

Lukisan yang Tak Kunjung Jadi

Saya bukan seniman, dan tidak punya darah seni. Seperti orang pada umumnya, saya hanya pecinta keindahan. Waktu kuliah saya melukis. Iseng-iseng saja. Tidak belajar secara khusus. Apalagi soal anatomi tubuh, saya buta sama sekali. Saya ingat, suatu malam di kamar kos, tidak bisa tidur, dan memandang langit-langit kamar. Saya gelisah, bosan, dan muak dengan kuliah, dengan kampus yang begitu-begitu saja, dan dengan mata kuliah yang penuh hafalan.


Tiba-tiba saya melonjak dari ranjang. “Saya mau melukis!” Begitu pikir saya. Meski saya tidak tahu cat apa yang bagus, kanvas yang ukuran berapa, dan aliran lukisan saya nantinya seperti apa. Saya hanya merasa, malam itu, sekitar tahun 2005, saya senang sekali dan tak sabar menanti pagi.


Pulang kuliah saya ke toko buku, membeli sebuah kanvas, sekotak cat minyak, sebotol minyak, dan tiga buah kuas. Saya mengunci kamar dan memulai. Langsung saja, tidak pakai sketsa. Rasanya seperti anak kecil yang kegirangan mendapat mainan baru. Saya suka warna-warna. Lalu setelah lukisan perdana saya jadi, saya tersenyum-senyum memandanginya. Dan besoknya, teman saya yang main ke kamar kaget. “Kapan kau membuatnya?” Saya bilang semalam. Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa begitu bernafsu menandaskannya dalam semalam.


Setelah itu, saya selalu menyatroni rak buku-buku seni di perpustakaan kampus. Saya berkenalan dengan van Gogh, Monet, Dali, Picasso, dan tentu saja Affandi. Saya menenteng buku-buku seni itu kemana-mana. Saya menyendiri di pojokan kelas, duduk di deretan belakang, dan menekuri buku-buku itu. Berpikir-pikir, nanti malam ingin mencoba teknik melukis yang bagaimana. Apakah dengan kuas, memlototkan cat langsung dari tubenya, atau dengan jari-jari saya, dimana sidik jari saya tertinggal di kanvas-kanvas itu.


Saya sedih membayangkan jalan hidup Vincent van Gogh yang berliku. Betapa ia mulai melukis di usia yang tak muda lagi. Betapa tersiksanya ia menjadi beban bagi adiknya, Theo van Gogh yang sukses, dan menjadi gunjingan sesama seniman. Lalu, ketika akhirnya ia masuk rumah sakit jiwa dan memotong kupingnya sendiri, saya meneteskan air mata (hehe… melankolis sekali).


Irises

Salah satu karya van Gogh yang tak pernah bosan saya pandangi.


Tapi berkat van Gogh, hari-hari saya di kampus jadi lebih berwarna. Di laboratorium, sambil menunggu reaksi-reaksi kimia di labu Erlenmeyer, saya membayangkan nanti malam akan melukis apa. Puncaknya suatu hari, saya nekat mengadakan pameran lukisan di kampus. Bukan hanya lukisan saya sendiri, tapi juga lukisan teman-teman seangkatan saya. Saya memprovokasi mereka untuk melukis perdana. Uang penjualan lukisan dipakai untuk kegiatan angkatan. Setelah pameran itu, saya sempat mendapat pesanan lukisan dari dosen dan untuk wisma di lingkungan kampus. Wow, duitnya untuk ukuran mahasiswa benar-benar lumayan! Lalu, saya ingat van Gogh lagi. Betapa ia sering kelaparan hanya demi membeli kanvas dan cat minyak. Sedangkan saya yang dengan kurang ajarnya asal melukis, masih bisa menjual lukisan saya yang sama sekali tak bermutu itu dengan harga ala kadarnya.


The Starry Night

van Gogh itu memang bintang di malam hari.

Bintang yang sudah lama mati tapi sinarnya masih menerangi hingga ratusan tahun kemudian.


Selama kuliah, kamar saya dibilang mirip galeri lukisan. Tapi suatu hari, mood melukis saya hilang. Entah mengapa, saya tidak tahu. Sampai sekarang, masih ada tiga kanvas kosong yang teronggok di sudut kamar. Ada segurat sketsa di kanvas-kanvas itu. Botol minyak yang masih penuh, belum dibuka segelnya, di sudut meja. Kuas-kuas yang mengering dan tertunduk di bawah televisi. Tube-tube cat minyak yang menggerumbul dalam sebuah kotak sepatu. Mereka semua membisu. Atau mungkin, mereka sudah letih memanggil-manggil saya.


Hei, saya akan berdoa, semoga malam ini ada bintang di langit…