Cari Blog Ini

Kamis, 06 Mei 2010

Sunyi Senyap Ibu

Pada 24 April lalu, saya dan seorang teman menonton pementasan teater Niniek L Karim dengan lakon Request Concert. Saya selalu menyenangi Mbah Niniek yang dimata saya, seniman yang rendah hati. Maksudnya, dia itu selalu tersenyum-senyum, mukanya jauh dari jutek ^,^ .. Saya ingat waktu peringatan hari lahir Sapardi Djoko Damono yang ke-70 di Salihara, Mbah Niniek membacakan karya SDD dengan mengenakan celana komprang dan sepatu keds hijau. Sungguh nenek yang lucu.

Ketika memasuki ruang teater, saya tidak tahu garis besar cerita yang hendak dipentaskan. Saya hanya berpikir pertunjukan itu dalam rangka hari Kartini. Pentas dimulai pukul delapan malam. Lima menit sebelum mulai, saya mengecek ponsel. Ternyata ibu saya menelepon 10 menit lalu. Saya tidak mendengar deringnya, dan ruang teater sudah keburu digelapkan. Saya tidak sempat menelepon balik ibu saya.


Ternyata pentas itu tanpa dialog. Saya yang ‘lemot’ dan tidak fokus di awal, masih berharap Mbah Niniek akan berkata sesuatu. Suara-suara yang ada hanya celotehan orang dan bocah-bocah khas suasana gang kampung. Saya suka sekali setting panggung yang detil, menggambarkan rumah seseorang yang tinggal sendirian. Ada tiga bagian dalam rumah petak itu, ruang tamu, ruang tidur merangkap dapur, dan kamar mandi. Mbah Niniek berperan sebagai perempuan pekerja yang kesepian.





Ia pulang ke rumah, memasukkan sepeda motornya ke ruang tamu. Lalu membuka helm, jaket, sarung tangan, dan mengganti sepatu dengan sandal jepit. Adegan selanjutnya adalah keseharian seorang perempuan yang hidup sendiri. Berganti daster pink, membersihkan muka, mandi, makan, menonton televisi, hingga mendengarkan radio. Tidak ada yang aneh dari akting Mbah Niniek. Semuanya wajar dan alami. Saya sempat berpikir : ”Wow, apa iya hidup saya membosankan seperti yang ditampilkan disitu?” Saya tinggal sendiri di sebuah petak selama nyaris tujuh tahun.


Waktu adegan Mbah Niniek menyulam kristik, saya teringat pada ibu saya. Saya pun berpikir, apa ibu di kampung halaman juga sama kesepiannya seperti Mbah Niniek. Berkali-kali Mbah Niniek melongok keluar jendela, mengecek ponsel―berharap ada SMS masuk, sampai saking isengnya, ia mengirim pesan pada penyiar radio Female. Saya tidak tahu siapa yang ditunggu Mbah Niniek disitu. Saya menduga ia tidak menanti suami atau anaknya. Ia hanya menanti ada seseorang yang bertamu, mengunjunginya, mengajak mengobrol, dan membunuh rasa sepinya. Ekspresi wajahnya begitu kosong dan sepi.









Sebelum tidur, Mbah Niniek memakai rol rambut dan menyiapkan pakaian kerja untuk keesokan harinya. Dalam kegelapan, ia mencoba memejamkan mata. Ia tak bisa tidur, lalu bangun dan terduduk di ranjang. Ia beranjak ke meja makan. Lalu meraih sebotol tablet, dikeluarkannya semua tablet. Ia menghitung, ada dua puluh lima butir. Ia genggam tablet-tablet itu. Mbah Niniek menoleh ke kanan dan ke kiri. Tangannya gemetar. Beberapa kali ia menolah-noleh, seolah ada orang yang bisa ditanyai atau memergokinya. Dan, ia tenggak kedua puluh lima tablet itu sekaligus. Selesai.


Saya masih terpaku. Teman saya bilang, kalau tidak bunuh diri, endingnya mau bagaimana lagi. Saat tepuk tangan membahana―Ayu Utami memberi standing ovation― Mbah Niniek kembali ke raut wajahnya semula yang lucu. Saya lega itu cuma teater. Tentu saja, memang apa alasannya seorang aktor harus bunuh diri beneran di panggung? :D Untung penontonnya lumayan banyak, jadi kan tidak kesepian betulan ya?





Anehnya, usai pentas, saya tidak langsung teringat pada ibu saya di rumah, yang tadi tertunda teleponnya karena pertunjukan itu. Saya malah mengobrol ngalor-ngidul dengan teman saya sampai pukul dua belas malam, hingga terpaksa pulang naik colt sayur lantaran sudah tak ada angkot lagi. Saya baru ingat ibu, kemarin. Kakak perempuan saya bilang, ibu menangis karena saya tidak bisa ditelepon. Padahal beberapa hari sesudahnya, saya tak sengaja menekan nomor rumah dan diangkat oleh kakak lelaki saya yang menyebalkan. Saya tutup lagi teleponnya karena saya malas berbasa-basi.


Pagi kemarin saya menelepon ibu. Ia girang luar biasa. Saya hanya merangkum cerita selama dua minggu, tidak, sebulan lebih, pada ibu. Ya, hampir sebulan lebih saya tidak bicara pada ibu, dan saya merasa biasa saja, bahkan tidak merasa durhaka sedikit pun.


Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang kesepian, karena saya belum menjadi ibu. Dan mengapa perempuan-perempuan bernama ibu itu, rela melahirkan hanya untuk ditinggalkan. Terkadang saya memang suka berpikir ngawur. Saya merasa tidak yakin akan bisa jadi ibu, karena saya tidak mau ditinggalkan anak-anak yang saya lahirkan suatu hari kelak. Seperti yang dibilang Kahlil Gibran : Anak-anakmu adalah anak panah dan bukan anakmu sendiri. Saya bukan pelontar anak panah. Saya mau menjadi pelempar bumerang, dimana mereka akan selalu kembali pada saya.



Saya bayangkan ibu setiap pagi bangun, ke pasar, memasak, tidur siang, berkebun, menjahit, membersihkan rumah, memberi makan burung-burung bodoh peliharaan kakak lelaki yang menyebalkan, bergosip dengan tetangga, menonton televisi, lalu tidur lagi di malam hari. Saya bayangkan setiap harinya seperti itu. Tidak ada suami, yang sudah pergi enam tahun lalu. Hanya ada dua orang anak lelaki tidak berguna, dan seorang anak perempuan di rumah. Sesekali ibu akan menjenguk cucu-cucunya di kota tetangga. Atau ia ikut kelompok pengajian, ziarah ke makam Wali Songo, sampai pernah, ibu sungguh iseng dengan ikut tur ke Gunung Kawi. Saya bilang pada ibu : “Titip pesugihan ya, Bu.” ;p


Ibu dan ayah, pertama kali bertemu di panggung teater remaja. Saya kaget waktu ibu pernah bercerita seperti itu. Sayang, teater itu cuma teater kampung. Alhasil ayah dan ibu tak bisa seperti Nano-Ratna. Kalau iya, pasti sekarang saya tidak akan menjadi PNS gila. Ah ibu, cuma ibu sendiri yang bisa memahami sepinya. Manusia tidak berbagi sepi. Dunia ini ramai, mirip pasar malam, kata Pram. Hanya saja, kita datang dan pergi, ke dan dari dunia ini, sendirian.


Sumber gambar : Facebook Salihara, situs National Geographic

Minggu, 02 Mei 2010

Lukisan yang Tak Kunjung Jadi

Saya bukan seniman, dan tidak punya darah seni. Seperti orang pada umumnya, saya hanya pecinta keindahan. Waktu kuliah saya melukis. Iseng-iseng saja. Tidak belajar secara khusus. Apalagi soal anatomi tubuh, saya buta sama sekali. Saya ingat, suatu malam di kamar kos, tidak bisa tidur, dan memandang langit-langit kamar. Saya gelisah, bosan, dan muak dengan kuliah, dengan kampus yang begitu-begitu saja, dan dengan mata kuliah yang penuh hafalan.


Tiba-tiba saya melonjak dari ranjang. “Saya mau melukis!” Begitu pikir saya. Meski saya tidak tahu cat apa yang bagus, kanvas yang ukuran berapa, dan aliran lukisan saya nantinya seperti apa. Saya hanya merasa, malam itu, sekitar tahun 2005, saya senang sekali dan tak sabar menanti pagi.


Pulang kuliah saya ke toko buku, membeli sebuah kanvas, sekotak cat minyak, sebotol minyak, dan tiga buah kuas. Saya mengunci kamar dan memulai. Langsung saja, tidak pakai sketsa. Rasanya seperti anak kecil yang kegirangan mendapat mainan baru. Saya suka warna-warna. Lalu setelah lukisan perdana saya jadi, saya tersenyum-senyum memandanginya. Dan besoknya, teman saya yang main ke kamar kaget. “Kapan kau membuatnya?” Saya bilang semalam. Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa begitu bernafsu menandaskannya dalam semalam.


Setelah itu, saya selalu menyatroni rak buku-buku seni di perpustakaan kampus. Saya berkenalan dengan van Gogh, Monet, Dali, Picasso, dan tentu saja Affandi. Saya menenteng buku-buku seni itu kemana-mana. Saya menyendiri di pojokan kelas, duduk di deretan belakang, dan menekuri buku-buku itu. Berpikir-pikir, nanti malam ingin mencoba teknik melukis yang bagaimana. Apakah dengan kuas, memlototkan cat langsung dari tubenya, atau dengan jari-jari saya, dimana sidik jari saya tertinggal di kanvas-kanvas itu.


Saya sedih membayangkan jalan hidup Vincent van Gogh yang berliku. Betapa ia mulai melukis di usia yang tak muda lagi. Betapa tersiksanya ia menjadi beban bagi adiknya, Theo van Gogh yang sukses, dan menjadi gunjingan sesama seniman. Lalu, ketika akhirnya ia masuk rumah sakit jiwa dan memotong kupingnya sendiri, saya meneteskan air mata (hehe… melankolis sekali).


Irises

Salah satu karya van Gogh yang tak pernah bosan saya pandangi.


Tapi berkat van Gogh, hari-hari saya di kampus jadi lebih berwarna. Di laboratorium, sambil menunggu reaksi-reaksi kimia di labu Erlenmeyer, saya membayangkan nanti malam akan melukis apa. Puncaknya suatu hari, saya nekat mengadakan pameran lukisan di kampus. Bukan hanya lukisan saya sendiri, tapi juga lukisan teman-teman seangkatan saya. Saya memprovokasi mereka untuk melukis perdana. Uang penjualan lukisan dipakai untuk kegiatan angkatan. Setelah pameran itu, saya sempat mendapat pesanan lukisan dari dosen dan untuk wisma di lingkungan kampus. Wow, duitnya untuk ukuran mahasiswa benar-benar lumayan! Lalu, saya ingat van Gogh lagi. Betapa ia sering kelaparan hanya demi membeli kanvas dan cat minyak. Sedangkan saya yang dengan kurang ajarnya asal melukis, masih bisa menjual lukisan saya yang sama sekali tak bermutu itu dengan harga ala kadarnya.


The Starry Night

van Gogh itu memang bintang di malam hari.

Bintang yang sudah lama mati tapi sinarnya masih menerangi hingga ratusan tahun kemudian.


Selama kuliah, kamar saya dibilang mirip galeri lukisan. Tapi suatu hari, mood melukis saya hilang. Entah mengapa, saya tidak tahu. Sampai sekarang, masih ada tiga kanvas kosong yang teronggok di sudut kamar. Ada segurat sketsa di kanvas-kanvas itu. Botol minyak yang masih penuh, belum dibuka segelnya, di sudut meja. Kuas-kuas yang mengering dan tertunduk di bawah televisi. Tube-tube cat minyak yang menggerumbul dalam sebuah kotak sepatu. Mereka semua membisu. Atau mungkin, mereka sudah letih memanggil-manggil saya.


Hei, saya akan berdoa, semoga malam ini ada bintang di langit…



Jumat, 30 April 2010

Kepingan Silam

Lo pasti pernah menyimpan barang-barang ga berguna di laci. Entah laci meja belajar, laci di bawah televisi, laci di meja rias, dan laci-laci lainnya. Termasuk, laci ingatan. Belakangan ini gue membongkar laci ingatan gue. Ternyata ada beberapa kepingan silam yang enggan gue buang. Betapa pun berkarat dan suram kepingan itu. Itu adalah masa lalu gue sebagai wartawan.



Emak gue jelas enggan mendapati anak bungsunya yang baru lulus apoteker dengan gilang-gemilang malah berniat jadi wartawan.
Emak : “Buat apa kamu kuliah 5 tahun sama praktikum kalau cuma buat keluyuran nodong-nodong pejabat?”
Gue : ”Anakmu ini ingin melihat dunia, Mak. Bukan ketemu tabung reaksi dan ramuan-ramuan palsu lagi.”
Emak : ”Yo wis nduk, tapi ga selamanya kamu keluyuran gitu tho?”
Gue : ”Nggih mboten, maknyak.”
Minggu-minggu pertama gue jadi wartawan, setiap malam emak menelepon dan bertanya gue dimana. Kalau gue jawab masih di kantor di pukul sembilan malam, pasti ia langsung nelangsa. Oh, emak yang baik, betapa durhaka anakmu ini. Apalagi kalau gue manjat pager kos jam satu atau dua pagi lantaran deadline, plus diteriaki maling sama cowok-cowok brengsek kos sebelah, gue makin merasa durhaka sama emak gue yang janda itu.

Sampai suatu hari waktu ada nyonyah besar dari Amerika datang berkunjung ke negeri ini, emak menelepon dengan girang.
Emak : “Hiiii, mak tadi liat kamu di tipi. Wah, kamu cuma berapa meter saja dari Nyonyah Ngamrik dan Pak Menteri lho. Jaan hebat tenan, wis kamu jangan keluyuran mblusuk ke kampung atau kali lagi ya?”
Gue : “Hehehe, sekarang di Politik mak. Gak mblusuk ke kali lagi kok. Itu dulu di Humaniora. Tapi kan seru bisa motret kemiskinan.”
Emak : “Hayyah, wong bocah adus ning kali wae kok seru. Ora elit kuwi.”

Gue setahun lalu, kira-kira seperti itu. Tiap pagi kalau ketemu adik kelas gue di gang kos, gue dikira masih jadi pengangguran. Dengan kostum jeans dan sepatu keds, kaum farmasis narsis sering bertanya :”Mau ke kampus ya, Kak? Mau legalisir ijazah ya?” Semprul!

Atau kalau gue ketemu dosen :”Kerja dimana kamu sekarang?” Dan ketika gue jawab jadi wartawan, mereka berjengit dan menganggap gue alien. Yah, gue akui dari dulu gue memang hobi jadi alien.

Semua baik-baik saja, sampai suatu hari bos besar tersandung kasus. Titanic mulai karam, dan sebagai orang waras, gue ya nyari sekoci dong. Gue sempat berpikir gue salah perhitungan, gue menolak posisi reporter dari sebuah majalah politik terbesar kedua di negeri ini sebelum si bos besar ditangkep polisi.
Gue : “Bang, saya bingung nih, pilih masuk situ apa gak ya?”
Resi Daulay : “Kamu masih muda. Kalau di majalah itu, kamu hanya jadi newsgetter. Kalau di koran, kamu tetap bisa liputan setiap hari dan ketemu banyak orang. Lagipula, pos kamu sekarang kan sudah bagus.”
Lalu ada komentar lain lagi…
Gue : “Mendingan gue pilih G apa M ya?”
Pacar temen gue : “Pilih jadi buntut kakap apa kepala teri?”
Gue : “Gue maunya kepala kakap.” :D

Akhirnya, gue pilih keluar dari jurnalisme karena letih dengan omong-kosong dan lakon politik. Gue masuk ke sarang kapitalis, ke sebuah kantor farmasi milik asing. Dan gue pun tidak betah berlama-lama disana. Sampai akhirnya, gue jadi CPNS di BPOM. Bukti dari ketidakwarasan gue. Emak tentu saja senang dengan ini. Anak hilang kembali pulang.

Nah, kutu-kutu loncat alumni rongsokan Ampera akhir-akhir ini bergosip. Ada jin Ifrit yang akan membangun kembali puing-puing itu.
Gue : “Tau ga, gue tadi sebelahan sama engkong-engkong di KRL Ekonomi AC. Tu engkong taunya bilang kantornya mau ditutup. Lagi nego harga sama Gramedia. Taunya dia ngasi gue koran X dan koran Y. Buset, kenapa gw dibayang-bayangi kisah media yang kolaps melulu sih?”
Jeng N : ”Lu mending. Gue diteror mulu ni, ditanyain mau balik apa ga kalo jin Ifrit bangun M lagi.”
Gue : ”Hah? Lu mau balik lagi kesono?”
Jeng N : ”Yaaa, kalo posisi gue menguntungkan sih, bisa dipertimbangkan.”
Gue : “Haha, lu minta aja minimal jadi redpel sono.” :D
Jeng N : “BM Diah gimana ya kalo tau M sekarang jadi gini.”
Gue : “Auk deh, ngamuk-ngamuk kali ye.”

Lalu obrolan lainnya,
Gue : ”Hoiii, kapan mulai lu jadi gupermen?”
Calon Camat : “Tau neh, katanya NIP gue bakal keluar Mei. Gue ga berharap di kecamatan atau kelurahan. Bisa bego gue.”
Gue : “Wahaha, mau dong kalo lu di kelurahan. Gue mau nembak KTP Jakarta aah.”
Calon Camat : “M katanya mau bikin tabloid sama portal tuh. Kita jadi kontributor aja disitu yuk. :D “
Gue : “Mang bisa ape PNS sekaligus wartawan?”

Eh tapi gue inget-inget lagi, kan di kode etik PNS ga ada tuh larangan jadi wartawan. Yang dilarang tuh gabung parpol dan melakukan tindak kriminal.
Masih ada lagi,
Jeng N : “M begitu mempesona ya. R dan D pas gue kasih tau kalo M mau hidup lagi, malah bilang mau ngajuin diri mereka sendiri.”
Gue : “Emang apa bagusnya? Gue sih kangen mie rebus depan kantor itu doang. Wahaha.. Gak deng, gue juga kangen. Karena itu pekerjaan pertama gue. Dan gue ga akan lupa betapa Pak T nerima gue tanpa tes apapun. Gile, main insting doang tu orang pas wawancara gue.”
Jeng N : ”Kalo gue, karena itu pekerjaan pertama gue yang tetap. Dan M ngajarin gue banyak hal, untuk berusaha memercayai yang menurut gue ga mungkin terjadi. Termasuk untuk belajar ikhlas ketika ia akhirnya kandas.”
Gue : “Cep..cep..jangan sedih dong..”



Begitulah, kutu-kutu M juga tetap melanjutkan hidup, mengisap darah dari daging-daging segar lainnya. Ada kelompok kutu yang setia dengan jurnalisme, ada yang di biro konsultan media, ada yang merumput di pabrik tekstil, ada yang wiraswasta, ada yang jadi aktivis, ada yang baru mantu, ada yang S2, ada yang jadi siluman, sampai ada yang saking stresnya jadi PNS (kok yang terakhir ini kayak kenal ya? :D)

Sampai sekarang gue masih dapet undangan-undangan liputan. Diskusi politik, ekonomi, sampai dari TNI juga masih dapet undangan. Pernah malem-malem gue ditelpon ekonom.
Ekonom : “Mbak Sitta, sekarang dimana?”
Gue : “Di kos pak.”
Ekonom : “Maksud saya, di media mana.”
Gue : “Oo, saya di farmasi pak. Udah gak di media lagi. Kenapa pak? Ada undangan diskusi? Nanti saya forward ke temen saya deh pak.”
Ekonom : “Enggak kok. Saya cuma bingung, kok udah lama ya mbak ga nelpon saya buat minta statement.”
Gue : (**krik..krik..krik.. kasian amat ni ekonom, gak laku lagi apa ya??**)

Sering gue sedih dan mikir, gue bisa gak ya nyamar jadi wartawan mana kek gitu. Gue cuma pengen dengerin seminar atau diskusi ini itu. Jujur, kadang gue kangen juga kok sama semua omong-kosong itu. Gue juga tetap berteman dengan beberapa kutu M. Maksudnya ketemuan dan kongkow gitu lah. Sawang sinawang jalan hidup masing-masing.

Nah, gimana dengan lu semua? Kutu-kutu M.. gue kangen lu semua secara resmi (maksudnya I’m officially missing you.. :D )…heheee…


Dari note FB :
http://www.facebook.com/hy.surya#!/notes/sitta-taqwim/kepingan-silam/381811644421

Rabu, 28 April 2010

Koloni Belanda, Koloni Bakteri, dan Beri-Beri



Kalau saya bertanya pada beberapa teman : “Apa yang terlintas di benakmu tentang Belanda?”. Mayoritas menjawab penjajah. Banyak juga yang menjawab kincir angin, bunga tulip, kanal, sampai Holland Bakery. Akhir pekan lalu saya bertemu seorang teman yang mencoba melucu. Katanya ada pekerjaan yang enak dan digaji mahal di Holland Bakery. Saya langsung ngiler membayangkan roti-roti yang lezat. Saya tanya apa lowongan pekerjaannya? “Niupin kincir angin di toko Holland Bakery,” katanya seraya tersenyum simpul. Hehe, tapi apa pun yang terkait Belanda, memang sulit dipisahkan dengan negeri ini. Suporter Persija yang memilih kaos warna oranye, apa juga ada hubungannya dengan tim sepakbola Belanda? Aduh, jadi tak sabar menanti Piala Dunia bulan Juni nanti.


Salah satu frase yang kerap ada di buku-buku sejarah : ‘zaman kolonial’. Saya iseng mencari makna koloni di kamus Tesaurus Bahasa Indonesia karangan Eko Endarmoko, arti koloni adalah permukiman, dominion, jajahan, kekuasaan, protektorat. Sementara di dunia mikroba, koloni adalah kumpulan mikroorganisme dalam luas area tertentu. Dan tentu saja, mikroba-mikroba itu merdeka, tidak merasa terjajah sama sekali. Bahkan saya yakin, bakteri dan kapang di cawan petri yang pernah saya pelihara ketika penelitian tiga tahun lalu, bahagia sekali hidup di agar-agar dan puding jagung bikinan saya. Buktinya, setelah saya lulus lalu kapang-kapang saya itu dipelihara junior saya, banyak dari mereka yang ngambek, tidak mau tumbuh, bahkan mati. Sungguh saya sedih, demikian pula profesor pembimbing penelitian saya. Rasanya, mungkin seperti kehilangan anak sendiri. Hehe, hiperbolis ya?



Salah satu isolat kapang yang masih terselamatkan. Penicillium purpurogenum, penampakan makroskopis kapang yang menghasilkan pigmen merah ini (kiri) dan penampakan mikroskopis dengan perbesaran 1000x (kanan), ia saya foto dengan kamera handphone merek Sony Ericson (maklum, mahasiswa kere..^,^ ).



Sejak dulu, saya pecinta Biologi, karena saya ngeri dengan matematika dan fisika. Penelitian untuk kelulusan saya di bidang Mikrobiologi Farmasi. Tiba-tiba saya terkenang, ada alat yang tak bisa saya lupakan jasanya selama penelitian itu. Mikroskop. Dan kalau bicara mikroskop, maka saya ingat sebentuk nama, Leeuwenhoek. Antonie van Leeuwenhoek (1632-1723), seorang Belanda yang menemukan mikroskop dan memberikan gambaran mengenai bakteri atau organisme sel tunggal.


Leeuwenhoek dan mikroskopnya membuat saya menyadari ada kehidupan lain di luar sana. Ada jagat mikroba-mikroba yang rendah hati dan tidak pongah. Mikroba-mikroba itu, sebetulnya bisa saja menjajah ketika kita lengah. Ketika kita jorok misalnya. Tapi mikroba itu juga bisa bermanfaat, dengan asam laktat, enzim-enzim, antibiotik, dan metabolit sekunder lainnya yang mereka hasilkan. Apa enaknya tempe tanpa kapang Rhizopus, oncom tanpa Neurospora crassa, keju tanpa Lactococcus lactis , dan kecap tanpa Aspergillus.


Selain untuk mengintip para mikroba, mikroskop juga ibarat mesin waktu yang mengantarkan kita pada jejak-jejak kehidupan kayu tetumbuhan. Sebuah preparat mikroskop adalah teka-teki yang harus dipecahkan, pesan rahasia yang harus disampaikan.


Struktur anatomi jaringan kayu genus Fraxinus berusia satu tahun yang digambar Leeuwenhoek.


Saya penasaran, kira-kira apa yang membuat Leeuwenhoek mencipta mikroskop dan iseng memicing-micingkan bola matanya menyibak rahasia setetes air kolam? Kalau Sulaiman bisa berbicara dengan hewan-hewan, Leeuwenhoek mungkin ingin berkomunikasi dengan mikroba-mikroba itu. Menitahkan koloni mikroba untuk tunduk di bawah kaki ilmuwan. Leeuwenhoek yang iseng juga mengamati sel-sel darah merah dan sel sperma. Lucunya, Leeuwenhoek juga pernah main-main dengan biji kopi. Pada tahun 1687, ia memanggang biji kopi lalu mengirisnya menjadi potongan-potongan tipis. Tiba-tiba ia melihat ada rongga-rongga yang aneh dimana minyak mengalir keluar. Leeuwenhoek pun mengakhiri percobaan itu dengan merebus kopi yang ia utak-atik. Hehe, laboratorium dan dapur tak ada bedanya nih..


Selain Leeuwenhoek, masih ada Eijkman yang juga berjasa di bidang mikrobiologi. Setiap pagi, kalau berangkat ke kantor di daerah Salemba, saya selalu melewati bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di dekat RSCM. Christiaan Eijkman (1858-1930), adalah seorang dokter dan ahli patologi. Eijkman pergi ke Hindia-Belanda (Indonesia) pada tahun 1883. Ia menjadi tenaga medis di Semarang, Cilacap, dan Padangsidempuan. Selama di Hindia-Belanda, Eijkman melakukan riset mengenai wabah beri-beri yang saat itu melanda. Rumah Sakit Militer Batavia dijadikan laboratorium permanen dengan Eijkman sebagai direktur pertama. Eijkman kemudian menemukan penyebab beri-beri adalah kekurangan elemen dalam makanan pokok bangsa pribumi, yakni vitamin B―yang terdapat dalam kulit ari beras. Temuan Eijkman akan vitamin B, bersama dengan rekannya Frederick Hopkins membuahkan hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran di tahun 1929.



Leeuwenhoek (kiri) dan Eijkman (kanan)



Saya ingat kata-kata profesor mikrobiologi saya, bahwa masih sedikit sekali ahli mikrobiologi di Indonesia ini. Padahal kekayaan ragam mikroba di negeri tropis macam Indonesia sangat besar. Sementara Belanda adalah salah satu negara dengan penelitian di bidang biologi molekuler yang berkembang dengan pesat.


Kita adalah koloni bakteri yang merdeka. Penduduk Indonesia yang ratusan juta jiwa, bukankah mirip bakteri? Tinggal pilihan kita yang menentukan, ingin jadi bakteri yang seperti apa? Bakteri baik atau bakteri jahat, bakteri bermanfaat atau bakteri patogen? Yang jelas, bakteri itu oportunis. Bakteri punya suhu dan lingkungan tertentu untuk hidup. Misalnya, bakteri termofilik yang hanya bisa hidup di lingkungan panas –mirip orang Indonesia yang hidup di iklim tropis kan? --. Sebagai manusia, kadang-kadang kita sendiri oportunis juga kan? Pujangga Ronggowarsito pernah bilang : “Zaman edan, yen ora edan ora keduman.”


Beberapa orang berkomentar, “Kita dulu dijajah Belanda sih, coba kalau dulu dijajah Inggris.” Apa bedanya? Kalau mental bangsa ini sejak dulunya memang mental koloni, bukan mental penemu, maka sampai kapan pun bangsa ini akan menjadi objek yang diamati. Salah satu bukti mental koloni itu, misalnya pepatah Jawa : “Mangan ora mangan kumpul”. Eh, tapi bukan berarti saya anti bukunya almarhum Umar Kayam dengan judul sama lho. Kumpulan kolom Pak Kayam di harian Kedaulatan Rakyat itu malah salah satu buku favorit saya.


Opini lainnya, kesemrawutan sistem birokrasi Indonesia itu warisan birokrasi ala Belanda. Yah, sebagai abdi gupermen pun, saya mengakui betapa menyebalkan urusan surat-menyurat untuk sampai pada pihak yang dituju. Tapi saya berpikir lagi, seberapa jauh sejatinya sistem Belanda merasuk dalam raga negeri ini. Dan mengapa yang tertinggal itu yang buruk-buruk saja? Kalau virus influenza saja rajin bermutasi, dan bakteri E.coli bisa fleksibel jadi agen pembuatan macam-macam hormon dan enzim, kenapa kita dari dulu begini-begini saja?


Belanda, mantan penjajah kita yang negerinya rawan banjir itu, yang masih punya raja-ratu, masih giat mencipta. Selain mewariskan kenangan kolonial di tanah-tanah bekas jajahannya dan gedung-gedung berarsitektur khas, bangsa itu terus mencipta dan menggelinding. Kita, selayaknya jua terus menggelinding, bermutasi, dan tentu saja, mencipta.



The eye of human being is a microscope, which makes the world seem bigger than it really is.” – Kahlil Gibran



Tulisan ini juga ada di :
http://sittafiakhsanitaqwim.blog.friendster.com/2010/04/koloni-belanda-koloni-bakteri-dan-beri-beri/
dan
http://www.facebook.com/note.php?note_id=386679294421