Cari Blog Ini

Minggu, 19 Februari 2012

Tour de Gunung Kidul

Saya bukanlah seorang yang jatuh cinta setengah mati pada pantai. Tapi entah mengapa jalan yang terbuka setelah perjalanan dari Sawarna, lagi-lagi ke pantai. Seminggu usai dari Sawarna, saya nekat ikut seorang teman yang hendak mudik ke Wonosari. Ia bilang disana banyak pantai dan berniat ke salah satu pantai sekitar Gunung Kidul. Jadilah, saya melemparkan diri ke dalam gerbong ular besi menuju Yogyakarta.

Pagi di stasiun Tugu cukup damai. Usai mandi di stasiun, saya dan teman saya jalan-jalan keliling UGM. Kamar mandi si stasiun Tugu bersih sekali lho. Dan gratis pula. Salut untuk Ngayogyakarta Hadiningrat! Usai jalan-jalan sejenak di UGM, kami melanjutkan perjalanan ke Wonosari naik bis. Saya tiba di rumah teman saya sekitar tengah hari. Perjalanan ke pantai baru keesokan harinya.

Sepanjang perjalanan menuju pantai-pantai sekitar Gunung Kidul, saya disuguhi pemandangan bukit-bukit yang hijau. Di dalam mobil, kami berenam (teman saya dan suaminya, adik teman saya dan pacarnya, sepupu teman saya dan saya sendiri) berceloteh riang gembira. Ajeng, sepupu teman saya nyeletuk, “Yang kayak gini kok sering dibilang Gunung Kidul itu tandus sih?” Hehehe, jadi jangan salah ya.. Gunung Kidul itu indah lho!









Bukit Gunung Kidul; pagi di stasiun Tugu; dan kumbang UGM











Pantai pertama yang kami singgahi adalah Pantai Sundak. Pagi itu pantai masih cukup sepi. Saya mendapatkan beberapa gambar disini. Usai dari sini, mobil mengarah ke pantai tetangga, Sundak Kecil. Pantai-pantai di Gunung Kidul ini memang pendek-pendek garis pantainya dan mirip satu sama lain. Karakteristik pasirnya lebih kasar dibanding Sawarna. Mungkin juga karena gelombang disini lebih kencang dan pantai-pantainya lebih ramai dikunjungi.












Pantai Sundak dan Pantai Kukup














Usai dari Sundak Kecil, kami melanjutkan ke Pantai Sepanjang. Di sini pun kondisinya mirip dengan Sundak. Ajeng ngotot ingin ke Pantai Kukup. Setiba di sana, saya setuju bahwa pantai ini tipografinya cukup bagus. Sayang, pantainya penuh manusia dan laut sedang pasang.









Pantai Kukup dan Sejoli di Pantai Sundak










Kukup sudah dijelajahi, destinasi berikutnya adalah pantai Indrayanti. Pantai ini terbilang baru. Namanya berasal dari sebuah kafe. Ketika kami tiba di sana, lagi-lagi gelombang sedang tidak bersahabat. Kabarnya, sehari sebelumnya beberapa kursi kafe dihempas gelombang yang ganas. Sang gelombang bahkan hingga mencapai jalan aspal yang dinaungi jajaran pohon cemara udang.

Siang makin terik. Kami berenam memutuskan mengisi perut, makan seafood di sekitar Indrayanti. Sorenya, saya sudah harus kembali ke Yogyakarta, untuk ke ibukota dengan si ular besi.









Pantai Indrayanti; penjual topi dan penjual kelomang










Di Yogyakarta, jalan-jalan saya tentunya tak afdol tanpa ke Mirota di Malioboro. Saya tak pernah bosan dengan toko ini. Selalu ada yang bisa dibeli di Mirota. Saya kalap membeli kalung-kalung kayu etnik yang harganya bisa berkali lipat bila di Jakarta. Kenapa saya tidak berburu di lapak Malioboro? Alasannya sederhana, saya tidak suka menawar, hehehe…

Ajeng ingin makan malam di lantai 3 Mirota. Saya sendiri baru tahu kalau di lantai 3 ada restoran, namanya House of Raminten. Suasananya nyaman, sungguh etnik, temaram, ditambah harga dan rasa makanan yang oke punya. Hal yang saya sesali, saya datang ketika tidak sedang diadakan pertunjukan di situ. Rupanya restoran itu juga punya panggung pertunjukan. Lucunya, waktu saya asyik memotret, saya dikira wartawan! Oh, senangnya masih dianggap jurnalis. Profesi masa lalu saya. :)










House of Raminten dengan setting panggung dan Ajeng










Sampai jumpa lagi di kisah yang lain. Gunung Kidul Pancen Oye, Yogya Tetap Istimewa.
;)

Sepotong Surga Bernama Sawarna

It is better to travel well than to arrive, begitu kata Buddha. Saya suka keluyuran, tapi belum pernah mendedikasikan diri untuk melakukan perjalanan secara rutin. Perjalanan saya kali ini ke Sawarna adalah perjalanan yang pertama kalinya dengan orang lain. Teman perjalanan saya adalah teman satu kantor dan temannya semasa kuliah. Dari rencana semula yang akan pergi berenam, ternyata tinggal bertiga saja. Sempat berpikir trip kali ini akan kurang seru lantaran hanya bertiga. Tapi, hey.. “mulai langkahmu dengan pikiran positif”, begitu pikir saya. Tak peduli apa yang akan saya temukan nanti di Sawarna, saya bertekad akan menikmati perjalanan ini dengan segala suka dukanya.


Langkah pertama dimulai di suatu Sabtu pagi dari stasiun kereta Pondok Cina. Saya janjian ketemu dengan Yuyun dan Arina di stasiun Bogor. Dari stasiun Bogor, kami lanjut ke terminal Baranangsiang, lalu naik bis MGI AC ke Pelabuhan Ratu. Perjalanan sekitar 3,5 jam hingga tiba di Pelabuhan Ratu. Turun dari bis, badan rasanya pegal semua. Saya penggemar kereta api dan kurang suka naik bis. Jadi nyaris 4 jam duduk di dalam bis saja bisa membuat saya serasa nenek-nenek, alias.. encok, hehehe..


Di terminal Pelabuhan Ratu, kami dikerumuni pengojek motor. Kami memilih naik mobil elf daripada naik ojek. Bukan apa-apa, saya hanya berpikir encok saya bakal lebih parah kalau naik motor entah untuk berapa lama lagi. Mobil elf-nya masih kosong waktu kami naik dan ngetem selama setengah jam. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB dan kami belum makan siang. Toh, kami tak berminat makan di terminal karena enggan menunggu mobil elf yang lain lagi, dan pastinya bakal ngetem super lama.


Perjalanan dari terminal Pelabuhan Ratu ke Bayah memakan waktu dua jam. Rute ini adalah rute favorit saya. Saya beruntung memilih duduk di kursi depan di samping jendela. Angin sepoi, aroma laut dan pemandangan indah menyergap saya. Di sebelah saya duduk seorang gadis yang mudik ke kampungnya di Bayah. Ia bekerja di Sukabumi. Jadilah si Neng asal Bayah ini layaknya semi-guide buat saya yang melongo dan berdecak kagum sepanjang jalan. Yuyun dan Arina memilih duduk di belakang. Arina sudah tidur pulas sementara Yuyun duduk anteng sambil menahan lapar.


Saya menikmati perjalanan ini. Saya melihat banyak kehidupan di bukit-bukit negeri antah berantah ini. Banyak pekerja-pekerja perkebunan karet yang rela menunggu mobil elf selama berjam-jam, hanya untuk naik ke atap mobil ini. Betapa keras kehidupan di bukit ini. Perempuan-perempuan tua yang memanggul karung, bukit kapur yang menyelip, dan jalanan yang berkelok-kelok membuat saya merasa biru.


Pukul 17.15 WIB, sopir elf menurunkan kami di persimpangan jalan menuju Sawarna. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan ojek. Rutenya berliku, naik turun, dan jalanannya masih belum mulus. Yang lebih serem, ojek harus melewati jembatan gantung menuju homestay tempat kami akan menginap. Saya jadi ingat berita soal jembatan gantung di dusun Lebak yang putus dan foto bocah-bocah SD yang nekat menyeberang demi bersekolah. Sawarna termasuk dalam wilayah Lebak. Pengojek yang membonceng saya lumayan ngaco, dia dan temannya yang membonceng Yuyun nekat beriringan menyeberang. Bayangkan! Satu jembatan gantung dilewati dua motor dan empat manusia. Saya spontak teriak!


Akhirnya, pukul 17.45 tiba juga di homestay Widi. Kami langsung ke pantai yang dicapai hanya dengan jalan kaki 10 menit. Sayang tak ada sunset. Tapi langitnya biru beludru, indah sekali. Yah, kami harus menahan hasrat berburu foto hingga esok pagi. Tubuh yang letih harus diistirahatkan. Malam itu kami tidur dengan pulas.


Keesokan paginya, kami bergegas ke pantai. Pantainya sungguh sepi dan tenang. Seolah milik kami bertiga. Berikut foto-foto jepretan saya. Biarkan gambar yang berbicara yaa…












Pencari ikan di pantai Sawarna

















Bule yang surfing di Sawarna; mentari pagi; dan Tanjung Layar Sawarna











Beberapa spesies di pantai menarik perhatian. Saya baru kali ini melihat ular laut dari dekat. Bangkai ikan pun ada yang terserak ditemani hamparan rumput dan ganggang laut. Tapi hal yang paling saya sukai adalah padang koral. Hamparan koral di pantai Sawarna sungguh bagus dan masih utuh. Pertanda bahwa pantai ini memang masih sepi. Koralnya belum hancur atau remuk. Saya menemukan banyak kelomang yang sepintas tak terlihat dari jauh.









Spesies di Sawarna: ular laut, bangkai ikan, dan kelomang yang masih mengantuk


















Yuyun dan Arina in action















Sekitar pukul 10.00 WIB, setelah puas main-main di pantai, kami kembali ke homestay Widi. Kami ingin ke Goa Lalay (lalay berarti kelelawar). Bu Ade, pemilik homestay merekomendasikan cucunya, Faisal, bocah kelas 4 SD menjadi pemandu. Jadilah tiga tante dituntun seorang bocah yang membawa senter menuju goa. Perjalanan dari homestay ke goa sekitar 30 menit berjalan kaki. Kami melewati lahan dan persawahan yang permai.










Desa Sawarna yang permai







Jalan menuju Goa Lalay juga melewati jembatan gantung. Bedanya, jembatan yang ini lebih rapuh dibanding jembatan gantung yang dilewati pengojek nekat sehari sebelumnya. Di jembatan gantung, lima gadis cilik meneriaki Faisal. Mereka mengikuti rombongan kami. Jadilah Faisal raja minyak di antara 5 gadis dan 3 tante. Enam bocah itu begitu lincah di dalam goa yang licin dan berlumpur. Air di dalam goa yang pekat dan masih alami ini memang tidak dangkal, maksimum sampai paha. Hanya saja yang bikin saya sebel, lumpurnya sungguh licin dan potensial tergelincir. Saya hanya kuatir pada kamera saya supaya jangan sampai basah.







Jembatan gantung menuju Goa Lalay; Arina dan Yuyun yang kehausan; dan pose Yuyun kala senja








Hal yang membuat saya takjub, anak-anak itu tahu persis bagian mana yang dangkal dan dalam.
“Teteh, disini dangkal nih.. Teteh jangan kesitu, disitu dalam airnya.. Teteh kakinya masuk ke bolongan ini nih.”
Mereka berenam tertawa-tawa di dalam goa. Sementara tiga tante mengusap peluh, doyong kesana-sini dan bolak-balik berteriak minta cahaya senter.
“Kalian kok hafal mana yang dalam dan dangkal sih?” tanya saya.
“Kan tiap libur mainnya kesini. Sabtu minggu, atau kalau sempat usai sekolah, kami main ke goa.”
Saya iri pada anak-anak itu. Mereka masih punya goa alami, pantai yang sepi, dan sawah yang permai untuk lahan bermain mereka.


Tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak. Mereka menemukan kepiting di dalam goa. Dan dengan santainya, seorang gadis cilik memegang si kepiting, untuk kemudian dilepaskan lagi. Saya agak bergidik, jangan-jangan ada ular laut nyasar, atau ular segede anaconda bersembunyi di dalam goa ini.
“Aduuuh, stress deh guee,” spontan saya berkata karena terseok-seok lumpur yang licin.
“Setres??” anak-anak itu tertawa.
Saya hanya nyengir. Setelah tiba di cekungan tempat para kelelawar tidur, kami putuskan untuk kembali. Kami tak sampai pada ujung goa.






Bocah pemandu ke Goa Lalay menemukan kepiting di dalam goa














Pulang dari goa, matahari tepat di atas kepala. Kami mengisi perut dulu di homestay. Oh ya saya lupa bilang, di homestay ini kami dapat makan 3 kali sehari. Hehehe..jadi jangan kuatir, meski backpacker-an, perut dijamin aman. Usai makan siang dan istirahat sejenak, kami lanjut menuju Tanjung Layar. Sebenarnya bentuk pantainya sama saja dengan Sawarna. Hanya bedanya di Tanjung Layar ada karang besar sekitar 100 meter dari tepi pantai. Air sedang setengah pasang waktu kami tiba disana. Saya tak mau ambil risiko membasahi kamera. Arina nekat menyeberang menuju karang raksasa. Alhasil, ponsel dan tas punggungnya basah.


Puas di Tanjung Layar, kami kembali menyusuri garis pantai hingga tiba kembali di Sawarna. Letih, kami pun duduk memesan es kelapa dan mie goreng sembari menanti senja tiba. Sunset yang ditunggu tak kunjung tiba. Langit agak mendung dan awan menggantung di cakrawala. Saya hanya mampu membidik kilat ketika sang surya selintas mengintip sebelum benar-benar tidur di peraduannya.







Senja dan sepotong bra di dahan mati; Tanjung Layar yang berbatu-batu










Sawarna memang sungguh fotogenik. Bahkan rumput dan bebungaan liar pun tampak indah bagi saya. Saya tak akan bosan ke tempat ini. Kelak, saya ingin kesini lagi untuk waktu yang lebih lama. Meninggalkan ribuan jejak di pasirnya yang sunyi dan abadi.









Rumput liar pilihan dewata

Minggu, 05 Juni 2011

25,5 Jam di Cirebon

Saya mungkin bukan WNI yang baik. Sudah nyaris seperempat abad hidup di Nusantara, belum semua kota di negeri ini saya singgahi. Waktu kuliah, setiap libur semester saya selalu pulang ke Surabaya dengan kereta api. Banyak kota yang saya lewati dengan si ular besi. Tapi tak terbersit sedikit pun keinginan untuk turun, mencoba tersesat, dan menjelajahi kota-kota kecil yang asing. Dulu, saya selalu tidur sepanjang perjalanan. Saya juga tidak suka bercakap dengan orang yang duduk di sebelah saya. Saya selalu menikmati kesunyian dalam perjalanan.

Beberapa hari lalu, saya merasa sudah pada puncak kejenuhan di kantor. Saya minta izin pada bos untuk break sejenak. Saya tak tahu kemana hendak pergi. Saya tidak merencanakan liburan ke tempat yang jauh karena waktu izin yang singkat. Lalu, saya pun tak ingin mudik karena rumah membuat saya merasa kelabu.

Pagi itu, saya pergi ke Gambir begitu saja. Saya membacai jadwal kereta dan jumlah kursi kosong di layar depan loket karcis. Kereta yang mau berangkat sebentar lagi adalah Cirebon Ekspres. Jadilah, saya duduk dalam gerbong kereta yang sepi. Inilah enaknya melancong saat hari kerja. Tak banyak orang yang bepergian. Selama di kereta, saya googling tempat mana saja yang hendak saya tuju di Cirebon.




Naik Kereta Api, Tut Tut Tut

Keterangan foto searah jarum jam: Stasiun Cirebon; gadis cilik di kereta; jarak terbentang; servis kereta sebelum berangkat; masinis bersiap meniup peluit; dan sawah dari balik jendela kereta.




Setiba di Cirebon, lokasi pertama yang jadi target saya adalah Trusmi. Saya bertekad hanya akan membeli oleh-oleh batik Cirebon. Jujur saja, kalau jalan-jalan ke suatu tempat, saya malas membeli makanan. Saya suka makanan enak tapi saya bukan pecinta wisata kuliner.

Ternyata mudah sekali menemukan Trusmi. Dan saya pun diantarkan dengan ramah oleh gadis-gadis penjaga sebuah toko batik untuk mengintip proses pembuatan batik khas Cirebon. Saya seorang gadis Jawa tulen. Namun saya buta proses dan urut-urutan membatik. Bahkan, saya baru tahu kalau malam―lilin yang digunakan untuk membatik―itu wujud aslinya sebesar wajan raksasa. Bila hendak digunakan, barulah dipecahkan untuk memudahkan proses pencairannya.

Gadis-gadis pembatik bekerja setiap Senin sampai Sabtu, dari pukul delapan pagi hingga setengah empat sore. Kira-kira ada sekitar 15 gadis pembatik dalam ruangan itu. Motif yang sedang mereka kerjakan rata-rata bermotif flora. Selama ini saya hanya tahu motif khas Cirebon adalah Mega Mendung.





Sentra Batik Trusmi










Keterangan foto searah jarum jam: pecahan malam; kumpulan cap batik; malam cair yang sudah dipanaskan; Pak Wawan, satu-satunya pria yang membuat motif batik disitu; kelompok pembatik perempuan; pencucian batik; dan etalase kain batik.



Puas melihat dan memotret gadis-gadis pembatik Trusmi, saya putuskan berkeliling kota. Hari sudah rembang petang. Kota kecil yang tenang ini mulai beristirahat. Saya pun melangkah mencari penginapan di sekitar stasiun kereta api. Banyak hotel bagus di sekitar Jalan Siliwangi yang dekat dengan stasiun. Sebut saja hotel Sidodadi dan Saresae. Hotel ini lumayan murah dan yang paling penting bersih.

Saya berharap menjumpai sisi menarik untuk saya potret di malam hari. Saya bertanya pada staf hotel, dimana lokasi yang oke buat difoto. Ia mengangkat bahu. Ia bilang Cirebon kota yang sepi dan tidak punya lokasi favorit di malam hari. Ia sarankan saya ke jalan dekat alun-alun dimana banyak restoran fast food berjejalan. Saya bilang bukan itu yang saya cari. Saya datang bukan untuk sepotong jualan kapitalis.

Akhirnya saya putuskan menyusuri jalanan sekitar alun-alun, balai kota, dan gedung DPRD. Saya makan malam nasi jamblang yang katanya khas Cirebon. Nasinya dibungkus daun jati, lalu lauk-pauknya boleh ambil sendiri. Lumayan enak. Masa saya jauh-jauh ke Cirebon hanya untuk makan Pizza Hut?

Usai makan malam, saya putuskan kembali saja ke hotel. Oh ya, transportasi yang ada di Cirebon hanya dua. Becak dan ojek. Tampaknya, bagi masyarakat Cirebon jauh-dekat lebih baik dengan naik becak dibanding jalan kaki. Saya sempat dianggap aneh karena kemana-mana memilih jalan kaki. Padahal, bukankah tak ada yang lebih baik mengukur kehidupan sebuah kota dengan sepasang kaki kita sendiri?

Sebelum tidur, saya berpesan pada staf hotel untuk mengantarkan sarapan paling pagi. Saya ingin berburu foto sepagi mungkin. Ternyata esoknya, staf hotel memang tepat mengetuk pintu saya pukul setengah enam pagi. Saya yang sudah mandi dan sholat Subuh, bergegas menuntaskan sarapan, memanggul ransel dan siap hunting foto.





Cirebon yang Damai

Keterangan foto searah jarum jam: Masjid Abang yang tutup setiap Jumat; warung Nasi Jamblang; Alun-Alun Kejaksan; sekitar Balai Kota dan Gedung DPRD; dan Pasar Kanoman.



Jalanan Cirebon di pagi hari masih sepi. Saya naik angkot dari depan hotel menuju Pasar Kanoman yang lokasinya jauh dari hotel. Dekat pasar Kanoman ada pula Keraton Kanoman dan Masjid Kanoman. Pola sesuai yang ada di buku-buku sejarah memang benar ya? Biasanya dekat sebuah keraton pasti ada pasar, alun-alun, dan masjid.

Keraton Kanoman kondisinya menyedihkan. Saya sempat berbincang sejenak dengan penduduk setempat yang sedang bermenung di mushola dalam kompleks keraton. Katanya, di Keraton Kanoman kini sedang ada perebutan tahta antara sultan dari permaisuri dan putra selir. Posisi sultan di Keraton Cirebon berbeda dengan di Yogyakarta. Sultan di Cirebon hanya sekedar pemangku adat dan kebudayaan. Tak heran bila banyak benda dan situs budaya di Cirebon yang terbengkalai. Sinergi antara Pemda dan pihak keraton dalam perawatan keraton tampaknya masih minim.

Ada empat keraton di Cirebon yang saya tahu, Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Keprabonan, dan Keraton Kacirebonan. Saya melewatkan satu keraton dalam perjalanan saya kali ini, Keraton Kacirebonan. Alasannya karena saya lebih fokus untuk menemukan kelenteng di kota ini. Oh, saya melantur. Mari kembali ke seputar keraton dulu.

Usai dari Keraton Kanoman, saya sempat memotret Masjid Kanoman. Saya mengambil gambar buru-buru karena diingatkan seorang penduduk ada kakek gila yang menjaga masjid itu. Tepat saat menjepret satu gambar, si kakek bangkit dan mau menghampiri saya. Saya buru-buru kabur dan si kakek pun berteriak: “Nonaaaa, kau tak sayang sama kakek yaaaa?” Hiiiiii….

Sebelum ke Keraton Kasepuhan, saya sempat mampir ke Masjid Abang. Hari itu hari Jumat, dan Masjid Abang adalah satu-satunya masjid di Cirebon yang tutup di hari Jumat. Konon, kata seorang penjaga Masjid Agung Cipta Rasa, dulu terjadi kesalahpahaman di era Sunan Gunung Jati. Tak jelas apa duduk perkaranya hingga tak ada jamaah yang sholat Jumat di Masjid Abang hingga kini.

Total saya mengunjungi empat masjid, Masjid Agung Cipta Rasa yang klasik, Masjid Abang yang tutup di hari Jumat, Masjid Kanoman yang dijaga kakek gila, dan Masjid At Taqwa yang modern di dekat Alun-Alun Kejaksan. Masjid Agung Cipta Rasa masih menggunakan jam matahari untuk menentukan waktu sholatnya. Lalu, dalam masjid ada pula area yang dipagari untuk tempat sholat khusus bagi kalangan keraton. Wah, bahkan untuk menghadap Sang Kuasa pun, kasta ksatria diberi kapling khusus ya?






Keraton Kasepuhan

Keterangan foto searah jarum jam: Gerbang Keraton Kasepuhan dijaga sepasang patung singa, lambang Padjajaran; kereta kencana yang satu-satunya bikinan anak negeri; sedekah ala kadarnya sebelum masuk keraton; Pak Widi, sang abdi dalem bercerita pada tamu-tamu ciliknya; dan rombongan bocah SD yang memanfaatkan waktu olahraga dengan jalan-jalan ke keraton.



Saya paling senang ketika mengunjungi Keraton Kasepuhan. Menurut pemandu yang mengantar saya berkeliling, keraton ini merupakan yang tertua di tanah Jawa. Saya pun manggut-manggut. Pengetahuan sejarah saya ketika dewasa tampaknya justru memburuk dibanding ketika saya SD.

Nuansa mistis memang kental menyelimuti kota yang tenang ini. Dalam kompleks keraton, saya menjumpai sumber air keramat. Pemandu menawarkan saya untuk mencuci muka. Saya menggeleng. Saya lebih takut tercemar E.coli dibanding mengejar berkah yang tak kasat mata. Di balik bekas taman air yang mengering, terdapat bangunan rahasia yang dilarang dimasuki perempuan. Konon, bangunan itu dulunya digunakan untuk perundingan rahasia oleh Sunan Gunung Jati dan para sultan. Bahkan permaisuri pun tak boleh masuk ke bangunan itu. Wah, pria memang gemar berahasia rupanya.

Hal yang paling saya sukai di kompleks keraton adalah pohon Dewandaru. Kalau diperhatikan di foto keraton yang ada patung dua singa putihnya, si pohon ada di sisi kanan dan doyong ke kanan. Dulunya, pohon itu digunakan untuk campuran kemenyan.

Saya sudah hendak keluar keraton ketika serombongan bocah berbaju merah memasuki gerbang dipimpin seorang abdi dalem. Saya batal keluar dan mengikuti rombongan tamu cilik itu berkeliling keraton lagi. Bocah-bocah kelas dua SD itu meminta pada Pak Guru mereka untuk ke keraton saat jam olahraga. Rasanya senang mendapati masih ada generasi biji yang tertarik pada masa purba.

Para bocah terkagum-kagum saat melihat kereta kencana. Kata Pak WIdi, sang abdi dalem, kereta kencana ini satu-satunya kereta kencana di tanah Jawa yang dibuat oleh pribumi. Sementara kereta kencana yang ada di Yogyakarta dibuat oleh bangsa asing. Kepala kereta terdiri dari belalai gajah yang mewakili India, barongsai yang mewakili Tionghoa, dan buroq yang mewakili Mesir. Simbol Hindu, Budha, dan Islam bersatu dengan pucuknya berupa tombak, lambang kekuatan akal budi dan pikir manusia. Indah sekali mendengar cerita si kakek dan melihat tatapan bening anak-anak.





Beautiful Cirebon

Keterangan foto searah jarum jam: sekitar perempatan dekat pelabuhan; gedung tua yang jadi perkantoran; dan gedung Bank Indonesia.



Puas dari keraton, saya mengukur jalanan kota Cirebon. Sebelum menemukan kelenteng, saya mengabadikan gedung-gedung tua yang bertebaran di kota ini. Pemerintah Cirebon tampaknya cukup perhatian dalam merawat gedung-gedung tua, kecuali keraton. Di setiap bangunan bersejarah dipampang papan biru yang menunjukkan nama bangunan dan tahun berdirinya bangunan. Saya agak kaget mendapati sebuah gedung perkantoran yang masih menggunakan plang dan nomor berbahasa Belanda.

Akhirnya, penasaran saya tertuntaskan setelah menemukan Vihara Dewi Welas Asih. Sayang tak ada pemandu yang bisa bercerita soal kelenteng ini pada saya. Saya hanya ditemani seorang gadis cilik yang mengantar saya memotret. Sebetulnya saya agak tak nyaman karena kuatir mengganggu ibadah beberapa orang yang ada di dalam kelenteng.





Vihara Dewi Welas Asih












Oh ya, ada satu hal yang membuat saya sempat melongo. Waktu saya bertanya pada seorang tukang becak dimana lokasi kelenteng di Cirebon ini, si tukang becak balik bertanya: “Kelenteng itu apa ya, Mbak?”

Ah, selain tenang dan mistis, kota ini ternyata juga menyimpan secuil lelucon.


Sampai jumpa lagi di kota-kota lainnya. Cintai negerimu!

Sekejap di Pontianak

Dua bulan lalu saya ke Pontianak. Agak basi memang lantaran baru diceritakan sekarang. Tapi kan, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tadinya saya berharap akan menemukan destinasi wisata yang menarik di sana. Namun agenda rapat membuat saya tak sempat jalan-jalan.

Rombongan pejabat di kantor saya beberapa kali wisata kuliner makan durian. Saya benci durian, jadi lebih baik tidur saja di kamar hotel usai meeting. Rombongan ibu-ibu sudah heboh belanja sejak hari pertama tiba. Beberapa membeli cenderamata yang dijual di hotel. Saya tidak tertarik berbelanja. Saya lebih memikirkan foto apa yang bakal saya dapatkan.

Sebenarnya saya tertarik dengan batik Pontianak. Banyak kawan yang bilang motif Pontianak sangat khas. Namun, berkunjung ke lokasi pembuatan Batik atau melihat suku tradisional jelas tidak mungkin. Saya kan ke Pontianak untuk ikut meeting, bukannya jadi pelancong.

Satu-satunya destinasi wisata yang saya kunjungi adalah Tugu Khatulistiwa. Kondisinya agak memprihatinkan. Suasananya sepi dan atap gedungnya kurang terawat. Foto-foto di Tugu Khatulistiwa yang sepi jadi lumayan dengan adanya bos saya. Apalah artinya situs tanpa manusia sebagai objek peninggal jejak? Tampaknya si bos lumayan happy dengan jalan-jalan singkat kali ini. Lihat saja posenya :).




Tugu Khatulistiwa dan si bos yang happy


Beberapa diorama menghiasi dinding di dalam gedung Tugu Khatulistiwa. Ada juga lukisan-lukisan bocah SD yang dipajang. Namun benda sederhana yang paling saya suka, bola dunia. Rasanya sudah lama sekali saya tidak melihat benda itu. Dua foto di bawah ini mengingatkan saya pada ayah.

Dulu waktu SD di Surabaya, dua benda yang saya minta sampai merengek-rengek pada ayah adalah bola dunia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sayangnya ayah tidak menemukan edisi kamus yang saya mau, jadilah saya cukup dibelikan kamus karangan Badudu-Zain. Ayah menelepon dari meeting di Jakarta waktu itu untuk membuat saya ngiler, dengan membacakan kosakata aneh dari kamus yang sudah ia beli. Rasanya hari itu saya benar-benar kangen pada ayah dan ingin ia cepat pulang membawa oleh-oleh kamus.

Soal gambar Tugu Khatulistiwa yang dibuat anak SD ini, juga mengingatkan pada kebiasaan saya dulu. Ayah sempat bertugas di Lhokseumawe dan beberapa waktu saya terpisah darinya. Ayah meminta saya setiap minggu mengirim gambar padanya. Lalu, gambar itu dikirim ayah kembali pada saya, dengan nilai darinya, dan selembar uang sepuluh ribu. Lucu ya? Ayah memberi saya uang saku, nilai, dan semangat untuk menggambar. Sayang saya tidak menyimpan kumpulan gambar-gambar saya waktu bocah itu.




Lukisan bocah SD dan suasana dalam gedung Tugu Khatulistiwa


Oh ya, saya menghabiskan waktu di Pontianak sejak tanggal 18 hingga 21 April. Andai saya kesana untuk melancong, pasti banyak tempat menarik yang bisa saya kunjungi. Mungkin bukan destinasi wisata yang terkenal, namun setidaknya saya berharap bisa memotret kehidupan orang-orang di kota itu.




Headline koran di Pontianak dan lembar buku tamu yang nyaris kosong


Jadilah Hari Kartini saya lewatkan di Pontianak. Dan kalau memerhatikan headline koran Pro-Kalbar di atas, tepat di hari yang dirayakan perempuan Indonesia, dua orang perempuan―Nafa dan Qomariah―menghilang. Saya tidak tahu mengapa mereka menghilang karena tidak sempat membaca koran yang tergeletak di dekat buku tamu itu. Saya harus buru-buru mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Semoga saja dua perempuan Pontianak itu baik-baik saja. Semoga.

Kamis, 06 Mei 2010

Sunyi Senyap Ibu

Pada 24 April lalu, saya dan seorang teman menonton pementasan teater Niniek L Karim dengan lakon Request Concert. Saya selalu menyenangi Mbah Niniek yang dimata saya, seniman yang rendah hati. Maksudnya, dia itu selalu tersenyum-senyum, mukanya jauh dari jutek ^,^ .. Saya ingat waktu peringatan hari lahir Sapardi Djoko Damono yang ke-70 di Salihara, Mbah Niniek membacakan karya SDD dengan mengenakan celana komprang dan sepatu keds hijau. Sungguh nenek yang lucu.

Ketika memasuki ruang teater, saya tidak tahu garis besar cerita yang hendak dipentaskan. Saya hanya berpikir pertunjukan itu dalam rangka hari Kartini. Pentas dimulai pukul delapan malam. Lima menit sebelum mulai, saya mengecek ponsel. Ternyata ibu saya menelepon 10 menit lalu. Saya tidak mendengar deringnya, dan ruang teater sudah keburu digelapkan. Saya tidak sempat menelepon balik ibu saya.


Ternyata pentas itu tanpa dialog. Saya yang ‘lemot’ dan tidak fokus di awal, masih berharap Mbah Niniek akan berkata sesuatu. Suara-suara yang ada hanya celotehan orang dan bocah-bocah khas suasana gang kampung. Saya suka sekali setting panggung yang detil, menggambarkan rumah seseorang yang tinggal sendirian. Ada tiga bagian dalam rumah petak itu, ruang tamu, ruang tidur merangkap dapur, dan kamar mandi. Mbah Niniek berperan sebagai perempuan pekerja yang kesepian.





Ia pulang ke rumah, memasukkan sepeda motornya ke ruang tamu. Lalu membuka helm, jaket, sarung tangan, dan mengganti sepatu dengan sandal jepit. Adegan selanjutnya adalah keseharian seorang perempuan yang hidup sendiri. Berganti daster pink, membersihkan muka, mandi, makan, menonton televisi, hingga mendengarkan radio. Tidak ada yang aneh dari akting Mbah Niniek. Semuanya wajar dan alami. Saya sempat berpikir : ”Wow, apa iya hidup saya membosankan seperti yang ditampilkan disitu?” Saya tinggal sendiri di sebuah petak selama nyaris tujuh tahun.


Waktu adegan Mbah Niniek menyulam kristik, saya teringat pada ibu saya. Saya pun berpikir, apa ibu di kampung halaman juga sama kesepiannya seperti Mbah Niniek. Berkali-kali Mbah Niniek melongok keluar jendela, mengecek ponsel―berharap ada SMS masuk, sampai saking isengnya, ia mengirim pesan pada penyiar radio Female. Saya tidak tahu siapa yang ditunggu Mbah Niniek disitu. Saya menduga ia tidak menanti suami atau anaknya. Ia hanya menanti ada seseorang yang bertamu, mengunjunginya, mengajak mengobrol, dan membunuh rasa sepinya. Ekspresi wajahnya begitu kosong dan sepi.









Sebelum tidur, Mbah Niniek memakai rol rambut dan menyiapkan pakaian kerja untuk keesokan harinya. Dalam kegelapan, ia mencoba memejamkan mata. Ia tak bisa tidur, lalu bangun dan terduduk di ranjang. Ia beranjak ke meja makan. Lalu meraih sebotol tablet, dikeluarkannya semua tablet. Ia menghitung, ada dua puluh lima butir. Ia genggam tablet-tablet itu. Mbah Niniek menoleh ke kanan dan ke kiri. Tangannya gemetar. Beberapa kali ia menolah-noleh, seolah ada orang yang bisa ditanyai atau memergokinya. Dan, ia tenggak kedua puluh lima tablet itu sekaligus. Selesai.


Saya masih terpaku. Teman saya bilang, kalau tidak bunuh diri, endingnya mau bagaimana lagi. Saat tepuk tangan membahana―Ayu Utami memberi standing ovation― Mbah Niniek kembali ke raut wajahnya semula yang lucu. Saya lega itu cuma teater. Tentu saja, memang apa alasannya seorang aktor harus bunuh diri beneran di panggung? :D Untung penontonnya lumayan banyak, jadi kan tidak kesepian betulan ya?





Anehnya, usai pentas, saya tidak langsung teringat pada ibu saya di rumah, yang tadi tertunda teleponnya karena pertunjukan itu. Saya malah mengobrol ngalor-ngidul dengan teman saya sampai pukul dua belas malam, hingga terpaksa pulang naik colt sayur lantaran sudah tak ada angkot lagi. Saya baru ingat ibu, kemarin. Kakak perempuan saya bilang, ibu menangis karena saya tidak bisa ditelepon. Padahal beberapa hari sesudahnya, saya tak sengaja menekan nomor rumah dan diangkat oleh kakak lelaki saya yang menyebalkan. Saya tutup lagi teleponnya karena saya malas berbasa-basi.


Pagi kemarin saya menelepon ibu. Ia girang luar biasa. Saya hanya merangkum cerita selama dua minggu, tidak, sebulan lebih, pada ibu. Ya, hampir sebulan lebih saya tidak bicara pada ibu, dan saya merasa biasa saja, bahkan tidak merasa durhaka sedikit pun.


Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang kesepian, karena saya belum menjadi ibu. Dan mengapa perempuan-perempuan bernama ibu itu, rela melahirkan hanya untuk ditinggalkan. Terkadang saya memang suka berpikir ngawur. Saya merasa tidak yakin akan bisa jadi ibu, karena saya tidak mau ditinggalkan anak-anak yang saya lahirkan suatu hari kelak. Seperti yang dibilang Kahlil Gibran : Anak-anakmu adalah anak panah dan bukan anakmu sendiri. Saya bukan pelontar anak panah. Saya mau menjadi pelempar bumerang, dimana mereka akan selalu kembali pada saya.



Saya bayangkan ibu setiap pagi bangun, ke pasar, memasak, tidur siang, berkebun, menjahit, membersihkan rumah, memberi makan burung-burung bodoh peliharaan kakak lelaki yang menyebalkan, bergosip dengan tetangga, menonton televisi, lalu tidur lagi di malam hari. Saya bayangkan setiap harinya seperti itu. Tidak ada suami, yang sudah pergi enam tahun lalu. Hanya ada dua orang anak lelaki tidak berguna, dan seorang anak perempuan di rumah. Sesekali ibu akan menjenguk cucu-cucunya di kota tetangga. Atau ia ikut kelompok pengajian, ziarah ke makam Wali Songo, sampai pernah, ibu sungguh iseng dengan ikut tur ke Gunung Kawi. Saya bilang pada ibu : “Titip pesugihan ya, Bu.” ;p


Ibu dan ayah, pertama kali bertemu di panggung teater remaja. Saya kaget waktu ibu pernah bercerita seperti itu. Sayang, teater itu cuma teater kampung. Alhasil ayah dan ibu tak bisa seperti Nano-Ratna. Kalau iya, pasti sekarang saya tidak akan menjadi PNS gila. Ah ibu, cuma ibu sendiri yang bisa memahami sepinya. Manusia tidak berbagi sepi. Dunia ini ramai, mirip pasar malam, kata Pram. Hanya saja, kita datang dan pergi, ke dan dari dunia ini, sendirian.


Sumber gambar : Facebook Salihara, situs National Geographic

Minggu, 02 Mei 2010

Lukisan yang Tak Kunjung Jadi

Saya bukan seniman, dan tidak punya darah seni. Seperti orang pada umumnya, saya hanya pecinta keindahan. Waktu kuliah saya melukis. Iseng-iseng saja. Tidak belajar secara khusus. Apalagi soal anatomi tubuh, saya buta sama sekali. Saya ingat, suatu malam di kamar kos, tidak bisa tidur, dan memandang langit-langit kamar. Saya gelisah, bosan, dan muak dengan kuliah, dengan kampus yang begitu-begitu saja, dan dengan mata kuliah yang penuh hafalan.


Tiba-tiba saya melonjak dari ranjang. “Saya mau melukis!” Begitu pikir saya. Meski saya tidak tahu cat apa yang bagus, kanvas yang ukuran berapa, dan aliran lukisan saya nantinya seperti apa. Saya hanya merasa, malam itu, sekitar tahun 2005, saya senang sekali dan tak sabar menanti pagi.


Pulang kuliah saya ke toko buku, membeli sebuah kanvas, sekotak cat minyak, sebotol minyak, dan tiga buah kuas. Saya mengunci kamar dan memulai. Langsung saja, tidak pakai sketsa. Rasanya seperti anak kecil yang kegirangan mendapat mainan baru. Saya suka warna-warna. Lalu setelah lukisan perdana saya jadi, saya tersenyum-senyum memandanginya. Dan besoknya, teman saya yang main ke kamar kaget. “Kapan kau membuatnya?” Saya bilang semalam. Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa begitu bernafsu menandaskannya dalam semalam.


Setelah itu, saya selalu menyatroni rak buku-buku seni di perpustakaan kampus. Saya berkenalan dengan van Gogh, Monet, Dali, Picasso, dan tentu saja Affandi. Saya menenteng buku-buku seni itu kemana-mana. Saya menyendiri di pojokan kelas, duduk di deretan belakang, dan menekuri buku-buku itu. Berpikir-pikir, nanti malam ingin mencoba teknik melukis yang bagaimana. Apakah dengan kuas, memlototkan cat langsung dari tubenya, atau dengan jari-jari saya, dimana sidik jari saya tertinggal di kanvas-kanvas itu.


Saya sedih membayangkan jalan hidup Vincent van Gogh yang berliku. Betapa ia mulai melukis di usia yang tak muda lagi. Betapa tersiksanya ia menjadi beban bagi adiknya, Theo van Gogh yang sukses, dan menjadi gunjingan sesama seniman. Lalu, ketika akhirnya ia masuk rumah sakit jiwa dan memotong kupingnya sendiri, saya meneteskan air mata (hehe… melankolis sekali).


Irises

Salah satu karya van Gogh yang tak pernah bosan saya pandangi.


Tapi berkat van Gogh, hari-hari saya di kampus jadi lebih berwarna. Di laboratorium, sambil menunggu reaksi-reaksi kimia di labu Erlenmeyer, saya membayangkan nanti malam akan melukis apa. Puncaknya suatu hari, saya nekat mengadakan pameran lukisan di kampus. Bukan hanya lukisan saya sendiri, tapi juga lukisan teman-teman seangkatan saya. Saya memprovokasi mereka untuk melukis perdana. Uang penjualan lukisan dipakai untuk kegiatan angkatan. Setelah pameran itu, saya sempat mendapat pesanan lukisan dari dosen dan untuk wisma di lingkungan kampus. Wow, duitnya untuk ukuran mahasiswa benar-benar lumayan! Lalu, saya ingat van Gogh lagi. Betapa ia sering kelaparan hanya demi membeli kanvas dan cat minyak. Sedangkan saya yang dengan kurang ajarnya asal melukis, masih bisa menjual lukisan saya yang sama sekali tak bermutu itu dengan harga ala kadarnya.


The Starry Night

van Gogh itu memang bintang di malam hari.

Bintang yang sudah lama mati tapi sinarnya masih menerangi hingga ratusan tahun kemudian.


Selama kuliah, kamar saya dibilang mirip galeri lukisan. Tapi suatu hari, mood melukis saya hilang. Entah mengapa, saya tidak tahu. Sampai sekarang, masih ada tiga kanvas kosong yang teronggok di sudut kamar. Ada segurat sketsa di kanvas-kanvas itu. Botol minyak yang masih penuh, belum dibuka segelnya, di sudut meja. Kuas-kuas yang mengering dan tertunduk di bawah televisi. Tube-tube cat minyak yang menggerumbul dalam sebuah kotak sepatu. Mereka semua membisu. Atau mungkin, mereka sudah letih memanggil-manggil saya.


Hei, saya akan berdoa, semoga malam ini ada bintang di langit…



Jumat, 30 April 2010

Kepingan Silam

Lo pasti pernah menyimpan barang-barang ga berguna di laci. Entah laci meja belajar, laci di bawah televisi, laci di meja rias, dan laci-laci lainnya. Termasuk, laci ingatan. Belakangan ini gue membongkar laci ingatan gue. Ternyata ada beberapa kepingan silam yang enggan gue buang. Betapa pun berkarat dan suram kepingan itu. Itu adalah masa lalu gue sebagai wartawan.



Emak gue jelas enggan mendapati anak bungsunya yang baru lulus apoteker dengan gilang-gemilang malah berniat jadi wartawan.
Emak : “Buat apa kamu kuliah 5 tahun sama praktikum kalau cuma buat keluyuran nodong-nodong pejabat?”
Gue : ”Anakmu ini ingin melihat dunia, Mak. Bukan ketemu tabung reaksi dan ramuan-ramuan palsu lagi.”
Emak : ”Yo wis nduk, tapi ga selamanya kamu keluyuran gitu tho?”
Gue : ”Nggih mboten, maknyak.”
Minggu-minggu pertama gue jadi wartawan, setiap malam emak menelepon dan bertanya gue dimana. Kalau gue jawab masih di kantor di pukul sembilan malam, pasti ia langsung nelangsa. Oh, emak yang baik, betapa durhaka anakmu ini. Apalagi kalau gue manjat pager kos jam satu atau dua pagi lantaran deadline, plus diteriaki maling sama cowok-cowok brengsek kos sebelah, gue makin merasa durhaka sama emak gue yang janda itu.

Sampai suatu hari waktu ada nyonyah besar dari Amerika datang berkunjung ke negeri ini, emak menelepon dengan girang.
Emak : “Hiiii, mak tadi liat kamu di tipi. Wah, kamu cuma berapa meter saja dari Nyonyah Ngamrik dan Pak Menteri lho. Jaan hebat tenan, wis kamu jangan keluyuran mblusuk ke kampung atau kali lagi ya?”
Gue : “Hehehe, sekarang di Politik mak. Gak mblusuk ke kali lagi kok. Itu dulu di Humaniora. Tapi kan seru bisa motret kemiskinan.”
Emak : “Hayyah, wong bocah adus ning kali wae kok seru. Ora elit kuwi.”

Gue setahun lalu, kira-kira seperti itu. Tiap pagi kalau ketemu adik kelas gue di gang kos, gue dikira masih jadi pengangguran. Dengan kostum jeans dan sepatu keds, kaum farmasis narsis sering bertanya :”Mau ke kampus ya, Kak? Mau legalisir ijazah ya?” Semprul!

Atau kalau gue ketemu dosen :”Kerja dimana kamu sekarang?” Dan ketika gue jawab jadi wartawan, mereka berjengit dan menganggap gue alien. Yah, gue akui dari dulu gue memang hobi jadi alien.

Semua baik-baik saja, sampai suatu hari bos besar tersandung kasus. Titanic mulai karam, dan sebagai orang waras, gue ya nyari sekoci dong. Gue sempat berpikir gue salah perhitungan, gue menolak posisi reporter dari sebuah majalah politik terbesar kedua di negeri ini sebelum si bos besar ditangkep polisi.
Gue : “Bang, saya bingung nih, pilih masuk situ apa gak ya?”
Resi Daulay : “Kamu masih muda. Kalau di majalah itu, kamu hanya jadi newsgetter. Kalau di koran, kamu tetap bisa liputan setiap hari dan ketemu banyak orang. Lagipula, pos kamu sekarang kan sudah bagus.”
Lalu ada komentar lain lagi…
Gue : “Mendingan gue pilih G apa M ya?”
Pacar temen gue : “Pilih jadi buntut kakap apa kepala teri?”
Gue : “Gue maunya kepala kakap.” :D

Akhirnya, gue pilih keluar dari jurnalisme karena letih dengan omong-kosong dan lakon politik. Gue masuk ke sarang kapitalis, ke sebuah kantor farmasi milik asing. Dan gue pun tidak betah berlama-lama disana. Sampai akhirnya, gue jadi CPNS di BPOM. Bukti dari ketidakwarasan gue. Emak tentu saja senang dengan ini. Anak hilang kembali pulang.

Nah, kutu-kutu loncat alumni rongsokan Ampera akhir-akhir ini bergosip. Ada jin Ifrit yang akan membangun kembali puing-puing itu.
Gue : “Tau ga, gue tadi sebelahan sama engkong-engkong di KRL Ekonomi AC. Tu engkong taunya bilang kantornya mau ditutup. Lagi nego harga sama Gramedia. Taunya dia ngasi gue koran X dan koran Y. Buset, kenapa gw dibayang-bayangi kisah media yang kolaps melulu sih?”
Jeng N : ”Lu mending. Gue diteror mulu ni, ditanyain mau balik apa ga kalo jin Ifrit bangun M lagi.”
Gue : ”Hah? Lu mau balik lagi kesono?”
Jeng N : ”Yaaa, kalo posisi gue menguntungkan sih, bisa dipertimbangkan.”
Gue : “Haha, lu minta aja minimal jadi redpel sono.” :D
Jeng N : “BM Diah gimana ya kalo tau M sekarang jadi gini.”
Gue : “Auk deh, ngamuk-ngamuk kali ye.”

Lalu obrolan lainnya,
Gue : ”Hoiii, kapan mulai lu jadi gupermen?”
Calon Camat : “Tau neh, katanya NIP gue bakal keluar Mei. Gue ga berharap di kecamatan atau kelurahan. Bisa bego gue.”
Gue : “Wahaha, mau dong kalo lu di kelurahan. Gue mau nembak KTP Jakarta aah.”
Calon Camat : “M katanya mau bikin tabloid sama portal tuh. Kita jadi kontributor aja disitu yuk. :D “
Gue : “Mang bisa ape PNS sekaligus wartawan?”

Eh tapi gue inget-inget lagi, kan di kode etik PNS ga ada tuh larangan jadi wartawan. Yang dilarang tuh gabung parpol dan melakukan tindak kriminal.
Masih ada lagi,
Jeng N : “M begitu mempesona ya. R dan D pas gue kasih tau kalo M mau hidup lagi, malah bilang mau ngajuin diri mereka sendiri.”
Gue : “Emang apa bagusnya? Gue sih kangen mie rebus depan kantor itu doang. Wahaha.. Gak deng, gue juga kangen. Karena itu pekerjaan pertama gue. Dan gue ga akan lupa betapa Pak T nerima gue tanpa tes apapun. Gile, main insting doang tu orang pas wawancara gue.”
Jeng N : ”Kalo gue, karena itu pekerjaan pertama gue yang tetap. Dan M ngajarin gue banyak hal, untuk berusaha memercayai yang menurut gue ga mungkin terjadi. Termasuk untuk belajar ikhlas ketika ia akhirnya kandas.”
Gue : “Cep..cep..jangan sedih dong..”



Begitulah, kutu-kutu M juga tetap melanjutkan hidup, mengisap darah dari daging-daging segar lainnya. Ada kelompok kutu yang setia dengan jurnalisme, ada yang di biro konsultan media, ada yang merumput di pabrik tekstil, ada yang wiraswasta, ada yang jadi aktivis, ada yang baru mantu, ada yang S2, ada yang jadi siluman, sampai ada yang saking stresnya jadi PNS (kok yang terakhir ini kayak kenal ya? :D)

Sampai sekarang gue masih dapet undangan-undangan liputan. Diskusi politik, ekonomi, sampai dari TNI juga masih dapet undangan. Pernah malem-malem gue ditelpon ekonom.
Ekonom : “Mbak Sitta, sekarang dimana?”
Gue : “Di kos pak.”
Ekonom : “Maksud saya, di media mana.”
Gue : “Oo, saya di farmasi pak. Udah gak di media lagi. Kenapa pak? Ada undangan diskusi? Nanti saya forward ke temen saya deh pak.”
Ekonom : “Enggak kok. Saya cuma bingung, kok udah lama ya mbak ga nelpon saya buat minta statement.”
Gue : (**krik..krik..krik.. kasian amat ni ekonom, gak laku lagi apa ya??**)

Sering gue sedih dan mikir, gue bisa gak ya nyamar jadi wartawan mana kek gitu. Gue cuma pengen dengerin seminar atau diskusi ini itu. Jujur, kadang gue kangen juga kok sama semua omong-kosong itu. Gue juga tetap berteman dengan beberapa kutu M. Maksudnya ketemuan dan kongkow gitu lah. Sawang sinawang jalan hidup masing-masing.

Nah, gimana dengan lu semua? Kutu-kutu M.. gue kangen lu semua secara resmi (maksudnya I’m officially missing you.. :D )…heheee…


Dari note FB :
http://www.facebook.com/hy.surya#!/notes/sitta-taqwim/kepingan-silam/381811644421