Cari Blog Ini

Minggu, 05 Juni 2011

25,5 Jam di Cirebon

Saya mungkin bukan WNI yang baik. Sudah nyaris seperempat abad hidup di Nusantara, belum semua kota di negeri ini saya singgahi. Waktu kuliah, setiap libur semester saya selalu pulang ke Surabaya dengan kereta api. Banyak kota yang saya lewati dengan si ular besi. Tapi tak terbersit sedikit pun keinginan untuk turun, mencoba tersesat, dan menjelajahi kota-kota kecil yang asing. Dulu, saya selalu tidur sepanjang perjalanan. Saya juga tidak suka bercakap dengan orang yang duduk di sebelah saya. Saya selalu menikmati kesunyian dalam perjalanan.

Beberapa hari lalu, saya merasa sudah pada puncak kejenuhan di kantor. Saya minta izin pada bos untuk break sejenak. Saya tak tahu kemana hendak pergi. Saya tidak merencanakan liburan ke tempat yang jauh karena waktu izin yang singkat. Lalu, saya pun tak ingin mudik karena rumah membuat saya merasa kelabu.

Pagi itu, saya pergi ke Gambir begitu saja. Saya membacai jadwal kereta dan jumlah kursi kosong di layar depan loket karcis. Kereta yang mau berangkat sebentar lagi adalah Cirebon Ekspres. Jadilah, saya duduk dalam gerbong kereta yang sepi. Inilah enaknya melancong saat hari kerja. Tak banyak orang yang bepergian. Selama di kereta, saya googling tempat mana saja yang hendak saya tuju di Cirebon.




Naik Kereta Api, Tut Tut Tut

Keterangan foto searah jarum jam: Stasiun Cirebon; gadis cilik di kereta; jarak terbentang; servis kereta sebelum berangkat; masinis bersiap meniup peluit; dan sawah dari balik jendela kereta.




Setiba di Cirebon, lokasi pertama yang jadi target saya adalah Trusmi. Saya bertekad hanya akan membeli oleh-oleh batik Cirebon. Jujur saja, kalau jalan-jalan ke suatu tempat, saya malas membeli makanan. Saya suka makanan enak tapi saya bukan pecinta wisata kuliner.

Ternyata mudah sekali menemukan Trusmi. Dan saya pun diantarkan dengan ramah oleh gadis-gadis penjaga sebuah toko batik untuk mengintip proses pembuatan batik khas Cirebon. Saya seorang gadis Jawa tulen. Namun saya buta proses dan urut-urutan membatik. Bahkan, saya baru tahu kalau malam―lilin yang digunakan untuk membatik―itu wujud aslinya sebesar wajan raksasa. Bila hendak digunakan, barulah dipecahkan untuk memudahkan proses pencairannya.

Gadis-gadis pembatik bekerja setiap Senin sampai Sabtu, dari pukul delapan pagi hingga setengah empat sore. Kira-kira ada sekitar 15 gadis pembatik dalam ruangan itu. Motif yang sedang mereka kerjakan rata-rata bermotif flora. Selama ini saya hanya tahu motif khas Cirebon adalah Mega Mendung.





Sentra Batik Trusmi










Keterangan foto searah jarum jam: pecahan malam; kumpulan cap batik; malam cair yang sudah dipanaskan; Pak Wawan, satu-satunya pria yang membuat motif batik disitu; kelompok pembatik perempuan; pencucian batik; dan etalase kain batik.



Puas melihat dan memotret gadis-gadis pembatik Trusmi, saya putuskan berkeliling kota. Hari sudah rembang petang. Kota kecil yang tenang ini mulai beristirahat. Saya pun melangkah mencari penginapan di sekitar stasiun kereta api. Banyak hotel bagus di sekitar Jalan Siliwangi yang dekat dengan stasiun. Sebut saja hotel Sidodadi dan Saresae. Hotel ini lumayan murah dan yang paling penting bersih.

Saya berharap menjumpai sisi menarik untuk saya potret di malam hari. Saya bertanya pada staf hotel, dimana lokasi yang oke buat difoto. Ia mengangkat bahu. Ia bilang Cirebon kota yang sepi dan tidak punya lokasi favorit di malam hari. Ia sarankan saya ke jalan dekat alun-alun dimana banyak restoran fast food berjejalan. Saya bilang bukan itu yang saya cari. Saya datang bukan untuk sepotong jualan kapitalis.

Akhirnya saya putuskan menyusuri jalanan sekitar alun-alun, balai kota, dan gedung DPRD. Saya makan malam nasi jamblang yang katanya khas Cirebon. Nasinya dibungkus daun jati, lalu lauk-pauknya boleh ambil sendiri. Lumayan enak. Masa saya jauh-jauh ke Cirebon hanya untuk makan Pizza Hut?

Usai makan malam, saya putuskan kembali saja ke hotel. Oh ya, transportasi yang ada di Cirebon hanya dua. Becak dan ojek. Tampaknya, bagi masyarakat Cirebon jauh-dekat lebih baik dengan naik becak dibanding jalan kaki. Saya sempat dianggap aneh karena kemana-mana memilih jalan kaki. Padahal, bukankah tak ada yang lebih baik mengukur kehidupan sebuah kota dengan sepasang kaki kita sendiri?

Sebelum tidur, saya berpesan pada staf hotel untuk mengantarkan sarapan paling pagi. Saya ingin berburu foto sepagi mungkin. Ternyata esoknya, staf hotel memang tepat mengetuk pintu saya pukul setengah enam pagi. Saya yang sudah mandi dan sholat Subuh, bergegas menuntaskan sarapan, memanggul ransel dan siap hunting foto.





Cirebon yang Damai

Keterangan foto searah jarum jam: Masjid Abang yang tutup setiap Jumat; warung Nasi Jamblang; Alun-Alun Kejaksan; sekitar Balai Kota dan Gedung DPRD; dan Pasar Kanoman.



Jalanan Cirebon di pagi hari masih sepi. Saya naik angkot dari depan hotel menuju Pasar Kanoman yang lokasinya jauh dari hotel. Dekat pasar Kanoman ada pula Keraton Kanoman dan Masjid Kanoman. Pola sesuai yang ada di buku-buku sejarah memang benar ya? Biasanya dekat sebuah keraton pasti ada pasar, alun-alun, dan masjid.

Keraton Kanoman kondisinya menyedihkan. Saya sempat berbincang sejenak dengan penduduk setempat yang sedang bermenung di mushola dalam kompleks keraton. Katanya, di Keraton Kanoman kini sedang ada perebutan tahta antara sultan dari permaisuri dan putra selir. Posisi sultan di Keraton Cirebon berbeda dengan di Yogyakarta. Sultan di Cirebon hanya sekedar pemangku adat dan kebudayaan. Tak heran bila banyak benda dan situs budaya di Cirebon yang terbengkalai. Sinergi antara Pemda dan pihak keraton dalam perawatan keraton tampaknya masih minim.

Ada empat keraton di Cirebon yang saya tahu, Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Keprabonan, dan Keraton Kacirebonan. Saya melewatkan satu keraton dalam perjalanan saya kali ini, Keraton Kacirebonan. Alasannya karena saya lebih fokus untuk menemukan kelenteng di kota ini. Oh, saya melantur. Mari kembali ke seputar keraton dulu.

Usai dari Keraton Kanoman, saya sempat memotret Masjid Kanoman. Saya mengambil gambar buru-buru karena diingatkan seorang penduduk ada kakek gila yang menjaga masjid itu. Tepat saat menjepret satu gambar, si kakek bangkit dan mau menghampiri saya. Saya buru-buru kabur dan si kakek pun berteriak: “Nonaaaa, kau tak sayang sama kakek yaaaa?” Hiiiiii….

Sebelum ke Keraton Kasepuhan, saya sempat mampir ke Masjid Abang. Hari itu hari Jumat, dan Masjid Abang adalah satu-satunya masjid di Cirebon yang tutup di hari Jumat. Konon, kata seorang penjaga Masjid Agung Cipta Rasa, dulu terjadi kesalahpahaman di era Sunan Gunung Jati. Tak jelas apa duduk perkaranya hingga tak ada jamaah yang sholat Jumat di Masjid Abang hingga kini.

Total saya mengunjungi empat masjid, Masjid Agung Cipta Rasa yang klasik, Masjid Abang yang tutup di hari Jumat, Masjid Kanoman yang dijaga kakek gila, dan Masjid At Taqwa yang modern di dekat Alun-Alun Kejaksan. Masjid Agung Cipta Rasa masih menggunakan jam matahari untuk menentukan waktu sholatnya. Lalu, dalam masjid ada pula area yang dipagari untuk tempat sholat khusus bagi kalangan keraton. Wah, bahkan untuk menghadap Sang Kuasa pun, kasta ksatria diberi kapling khusus ya?






Keraton Kasepuhan

Keterangan foto searah jarum jam: Gerbang Keraton Kasepuhan dijaga sepasang patung singa, lambang Padjajaran; kereta kencana yang satu-satunya bikinan anak negeri; sedekah ala kadarnya sebelum masuk keraton; Pak Widi, sang abdi dalem bercerita pada tamu-tamu ciliknya; dan rombongan bocah SD yang memanfaatkan waktu olahraga dengan jalan-jalan ke keraton.



Saya paling senang ketika mengunjungi Keraton Kasepuhan. Menurut pemandu yang mengantar saya berkeliling, keraton ini merupakan yang tertua di tanah Jawa. Saya pun manggut-manggut. Pengetahuan sejarah saya ketika dewasa tampaknya justru memburuk dibanding ketika saya SD.

Nuansa mistis memang kental menyelimuti kota yang tenang ini. Dalam kompleks keraton, saya menjumpai sumber air keramat. Pemandu menawarkan saya untuk mencuci muka. Saya menggeleng. Saya lebih takut tercemar E.coli dibanding mengejar berkah yang tak kasat mata. Di balik bekas taman air yang mengering, terdapat bangunan rahasia yang dilarang dimasuki perempuan. Konon, bangunan itu dulunya digunakan untuk perundingan rahasia oleh Sunan Gunung Jati dan para sultan. Bahkan permaisuri pun tak boleh masuk ke bangunan itu. Wah, pria memang gemar berahasia rupanya.

Hal yang paling saya sukai di kompleks keraton adalah pohon Dewandaru. Kalau diperhatikan di foto keraton yang ada patung dua singa putihnya, si pohon ada di sisi kanan dan doyong ke kanan. Dulunya, pohon itu digunakan untuk campuran kemenyan.

Saya sudah hendak keluar keraton ketika serombongan bocah berbaju merah memasuki gerbang dipimpin seorang abdi dalem. Saya batal keluar dan mengikuti rombongan tamu cilik itu berkeliling keraton lagi. Bocah-bocah kelas dua SD itu meminta pada Pak Guru mereka untuk ke keraton saat jam olahraga. Rasanya senang mendapati masih ada generasi biji yang tertarik pada masa purba.

Para bocah terkagum-kagum saat melihat kereta kencana. Kata Pak WIdi, sang abdi dalem, kereta kencana ini satu-satunya kereta kencana di tanah Jawa yang dibuat oleh pribumi. Sementara kereta kencana yang ada di Yogyakarta dibuat oleh bangsa asing. Kepala kereta terdiri dari belalai gajah yang mewakili India, barongsai yang mewakili Tionghoa, dan buroq yang mewakili Mesir. Simbol Hindu, Budha, dan Islam bersatu dengan pucuknya berupa tombak, lambang kekuatan akal budi dan pikir manusia. Indah sekali mendengar cerita si kakek dan melihat tatapan bening anak-anak.





Beautiful Cirebon

Keterangan foto searah jarum jam: sekitar perempatan dekat pelabuhan; gedung tua yang jadi perkantoran; dan gedung Bank Indonesia.



Puas dari keraton, saya mengukur jalanan kota Cirebon. Sebelum menemukan kelenteng, saya mengabadikan gedung-gedung tua yang bertebaran di kota ini. Pemerintah Cirebon tampaknya cukup perhatian dalam merawat gedung-gedung tua, kecuali keraton. Di setiap bangunan bersejarah dipampang papan biru yang menunjukkan nama bangunan dan tahun berdirinya bangunan. Saya agak kaget mendapati sebuah gedung perkantoran yang masih menggunakan plang dan nomor berbahasa Belanda.

Akhirnya, penasaran saya tertuntaskan setelah menemukan Vihara Dewi Welas Asih. Sayang tak ada pemandu yang bisa bercerita soal kelenteng ini pada saya. Saya hanya ditemani seorang gadis cilik yang mengantar saya memotret. Sebetulnya saya agak tak nyaman karena kuatir mengganggu ibadah beberapa orang yang ada di dalam kelenteng.





Vihara Dewi Welas Asih












Oh ya, ada satu hal yang membuat saya sempat melongo. Waktu saya bertanya pada seorang tukang becak dimana lokasi kelenteng di Cirebon ini, si tukang becak balik bertanya: “Kelenteng itu apa ya, Mbak?”

Ah, selain tenang dan mistis, kota ini ternyata juga menyimpan secuil lelucon.


Sampai jumpa lagi di kota-kota lainnya. Cintai negerimu!

Sekejap di Pontianak

Dua bulan lalu saya ke Pontianak. Agak basi memang lantaran baru diceritakan sekarang. Tapi kan, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tadinya saya berharap akan menemukan destinasi wisata yang menarik di sana. Namun agenda rapat membuat saya tak sempat jalan-jalan.

Rombongan pejabat di kantor saya beberapa kali wisata kuliner makan durian. Saya benci durian, jadi lebih baik tidur saja di kamar hotel usai meeting. Rombongan ibu-ibu sudah heboh belanja sejak hari pertama tiba. Beberapa membeli cenderamata yang dijual di hotel. Saya tidak tertarik berbelanja. Saya lebih memikirkan foto apa yang bakal saya dapatkan.

Sebenarnya saya tertarik dengan batik Pontianak. Banyak kawan yang bilang motif Pontianak sangat khas. Namun, berkunjung ke lokasi pembuatan Batik atau melihat suku tradisional jelas tidak mungkin. Saya kan ke Pontianak untuk ikut meeting, bukannya jadi pelancong.

Satu-satunya destinasi wisata yang saya kunjungi adalah Tugu Khatulistiwa. Kondisinya agak memprihatinkan. Suasananya sepi dan atap gedungnya kurang terawat. Foto-foto di Tugu Khatulistiwa yang sepi jadi lumayan dengan adanya bos saya. Apalah artinya situs tanpa manusia sebagai objek peninggal jejak? Tampaknya si bos lumayan happy dengan jalan-jalan singkat kali ini. Lihat saja posenya :).




Tugu Khatulistiwa dan si bos yang happy


Beberapa diorama menghiasi dinding di dalam gedung Tugu Khatulistiwa. Ada juga lukisan-lukisan bocah SD yang dipajang. Namun benda sederhana yang paling saya suka, bola dunia. Rasanya sudah lama sekali saya tidak melihat benda itu. Dua foto di bawah ini mengingatkan saya pada ayah.

Dulu waktu SD di Surabaya, dua benda yang saya minta sampai merengek-rengek pada ayah adalah bola dunia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sayangnya ayah tidak menemukan edisi kamus yang saya mau, jadilah saya cukup dibelikan kamus karangan Badudu-Zain. Ayah menelepon dari meeting di Jakarta waktu itu untuk membuat saya ngiler, dengan membacakan kosakata aneh dari kamus yang sudah ia beli. Rasanya hari itu saya benar-benar kangen pada ayah dan ingin ia cepat pulang membawa oleh-oleh kamus.

Soal gambar Tugu Khatulistiwa yang dibuat anak SD ini, juga mengingatkan pada kebiasaan saya dulu. Ayah sempat bertugas di Lhokseumawe dan beberapa waktu saya terpisah darinya. Ayah meminta saya setiap minggu mengirim gambar padanya. Lalu, gambar itu dikirim ayah kembali pada saya, dengan nilai darinya, dan selembar uang sepuluh ribu. Lucu ya? Ayah memberi saya uang saku, nilai, dan semangat untuk menggambar. Sayang saya tidak menyimpan kumpulan gambar-gambar saya waktu bocah itu.




Lukisan bocah SD dan suasana dalam gedung Tugu Khatulistiwa


Oh ya, saya menghabiskan waktu di Pontianak sejak tanggal 18 hingga 21 April. Andai saya kesana untuk melancong, pasti banyak tempat menarik yang bisa saya kunjungi. Mungkin bukan destinasi wisata yang terkenal, namun setidaknya saya berharap bisa memotret kehidupan orang-orang di kota itu.




Headline koran di Pontianak dan lembar buku tamu yang nyaris kosong


Jadilah Hari Kartini saya lewatkan di Pontianak. Dan kalau memerhatikan headline koran Pro-Kalbar di atas, tepat di hari yang dirayakan perempuan Indonesia, dua orang perempuan―Nafa dan Qomariah―menghilang. Saya tidak tahu mengapa mereka menghilang karena tidak sempat membaca koran yang tergeletak di dekat buku tamu itu. Saya harus buru-buru mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Semoga saja dua perempuan Pontianak itu baik-baik saja. Semoga.