Cari Blog Ini

Rabu, 28 April 2010

Koloni Belanda, Koloni Bakteri, dan Beri-Beri



Kalau saya bertanya pada beberapa teman : “Apa yang terlintas di benakmu tentang Belanda?”. Mayoritas menjawab penjajah. Banyak juga yang menjawab kincir angin, bunga tulip, kanal, sampai Holland Bakery. Akhir pekan lalu saya bertemu seorang teman yang mencoba melucu. Katanya ada pekerjaan yang enak dan digaji mahal di Holland Bakery. Saya langsung ngiler membayangkan roti-roti yang lezat. Saya tanya apa lowongan pekerjaannya? “Niupin kincir angin di toko Holland Bakery,” katanya seraya tersenyum simpul. Hehe, tapi apa pun yang terkait Belanda, memang sulit dipisahkan dengan negeri ini. Suporter Persija yang memilih kaos warna oranye, apa juga ada hubungannya dengan tim sepakbola Belanda? Aduh, jadi tak sabar menanti Piala Dunia bulan Juni nanti.


Salah satu frase yang kerap ada di buku-buku sejarah : ‘zaman kolonial’. Saya iseng mencari makna koloni di kamus Tesaurus Bahasa Indonesia karangan Eko Endarmoko, arti koloni adalah permukiman, dominion, jajahan, kekuasaan, protektorat. Sementara di dunia mikroba, koloni adalah kumpulan mikroorganisme dalam luas area tertentu. Dan tentu saja, mikroba-mikroba itu merdeka, tidak merasa terjajah sama sekali. Bahkan saya yakin, bakteri dan kapang di cawan petri yang pernah saya pelihara ketika penelitian tiga tahun lalu, bahagia sekali hidup di agar-agar dan puding jagung bikinan saya. Buktinya, setelah saya lulus lalu kapang-kapang saya itu dipelihara junior saya, banyak dari mereka yang ngambek, tidak mau tumbuh, bahkan mati. Sungguh saya sedih, demikian pula profesor pembimbing penelitian saya. Rasanya, mungkin seperti kehilangan anak sendiri. Hehe, hiperbolis ya?



Salah satu isolat kapang yang masih terselamatkan. Penicillium purpurogenum, penampakan makroskopis kapang yang menghasilkan pigmen merah ini (kiri) dan penampakan mikroskopis dengan perbesaran 1000x (kanan), ia saya foto dengan kamera handphone merek Sony Ericson (maklum, mahasiswa kere..^,^ ).



Sejak dulu, saya pecinta Biologi, karena saya ngeri dengan matematika dan fisika. Penelitian untuk kelulusan saya di bidang Mikrobiologi Farmasi. Tiba-tiba saya terkenang, ada alat yang tak bisa saya lupakan jasanya selama penelitian itu. Mikroskop. Dan kalau bicara mikroskop, maka saya ingat sebentuk nama, Leeuwenhoek. Antonie van Leeuwenhoek (1632-1723), seorang Belanda yang menemukan mikroskop dan memberikan gambaran mengenai bakteri atau organisme sel tunggal.


Leeuwenhoek dan mikroskopnya membuat saya menyadari ada kehidupan lain di luar sana. Ada jagat mikroba-mikroba yang rendah hati dan tidak pongah. Mikroba-mikroba itu, sebetulnya bisa saja menjajah ketika kita lengah. Ketika kita jorok misalnya. Tapi mikroba itu juga bisa bermanfaat, dengan asam laktat, enzim-enzim, antibiotik, dan metabolit sekunder lainnya yang mereka hasilkan. Apa enaknya tempe tanpa kapang Rhizopus, oncom tanpa Neurospora crassa, keju tanpa Lactococcus lactis , dan kecap tanpa Aspergillus.


Selain untuk mengintip para mikroba, mikroskop juga ibarat mesin waktu yang mengantarkan kita pada jejak-jejak kehidupan kayu tetumbuhan. Sebuah preparat mikroskop adalah teka-teki yang harus dipecahkan, pesan rahasia yang harus disampaikan.


Struktur anatomi jaringan kayu genus Fraxinus berusia satu tahun yang digambar Leeuwenhoek.


Saya penasaran, kira-kira apa yang membuat Leeuwenhoek mencipta mikroskop dan iseng memicing-micingkan bola matanya menyibak rahasia setetes air kolam? Kalau Sulaiman bisa berbicara dengan hewan-hewan, Leeuwenhoek mungkin ingin berkomunikasi dengan mikroba-mikroba itu. Menitahkan koloni mikroba untuk tunduk di bawah kaki ilmuwan. Leeuwenhoek yang iseng juga mengamati sel-sel darah merah dan sel sperma. Lucunya, Leeuwenhoek juga pernah main-main dengan biji kopi. Pada tahun 1687, ia memanggang biji kopi lalu mengirisnya menjadi potongan-potongan tipis. Tiba-tiba ia melihat ada rongga-rongga yang aneh dimana minyak mengalir keluar. Leeuwenhoek pun mengakhiri percobaan itu dengan merebus kopi yang ia utak-atik. Hehe, laboratorium dan dapur tak ada bedanya nih..


Selain Leeuwenhoek, masih ada Eijkman yang juga berjasa di bidang mikrobiologi. Setiap pagi, kalau berangkat ke kantor di daerah Salemba, saya selalu melewati bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di dekat RSCM. Christiaan Eijkman (1858-1930), adalah seorang dokter dan ahli patologi. Eijkman pergi ke Hindia-Belanda (Indonesia) pada tahun 1883. Ia menjadi tenaga medis di Semarang, Cilacap, dan Padangsidempuan. Selama di Hindia-Belanda, Eijkman melakukan riset mengenai wabah beri-beri yang saat itu melanda. Rumah Sakit Militer Batavia dijadikan laboratorium permanen dengan Eijkman sebagai direktur pertama. Eijkman kemudian menemukan penyebab beri-beri adalah kekurangan elemen dalam makanan pokok bangsa pribumi, yakni vitamin B―yang terdapat dalam kulit ari beras. Temuan Eijkman akan vitamin B, bersama dengan rekannya Frederick Hopkins membuahkan hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran di tahun 1929.



Leeuwenhoek (kiri) dan Eijkman (kanan)



Saya ingat kata-kata profesor mikrobiologi saya, bahwa masih sedikit sekali ahli mikrobiologi di Indonesia ini. Padahal kekayaan ragam mikroba di negeri tropis macam Indonesia sangat besar. Sementara Belanda adalah salah satu negara dengan penelitian di bidang biologi molekuler yang berkembang dengan pesat.


Kita adalah koloni bakteri yang merdeka. Penduduk Indonesia yang ratusan juta jiwa, bukankah mirip bakteri? Tinggal pilihan kita yang menentukan, ingin jadi bakteri yang seperti apa? Bakteri baik atau bakteri jahat, bakteri bermanfaat atau bakteri patogen? Yang jelas, bakteri itu oportunis. Bakteri punya suhu dan lingkungan tertentu untuk hidup. Misalnya, bakteri termofilik yang hanya bisa hidup di lingkungan panas –mirip orang Indonesia yang hidup di iklim tropis kan? --. Sebagai manusia, kadang-kadang kita sendiri oportunis juga kan? Pujangga Ronggowarsito pernah bilang : “Zaman edan, yen ora edan ora keduman.”


Beberapa orang berkomentar, “Kita dulu dijajah Belanda sih, coba kalau dulu dijajah Inggris.” Apa bedanya? Kalau mental bangsa ini sejak dulunya memang mental koloni, bukan mental penemu, maka sampai kapan pun bangsa ini akan menjadi objek yang diamati. Salah satu bukti mental koloni itu, misalnya pepatah Jawa : “Mangan ora mangan kumpul”. Eh, tapi bukan berarti saya anti bukunya almarhum Umar Kayam dengan judul sama lho. Kumpulan kolom Pak Kayam di harian Kedaulatan Rakyat itu malah salah satu buku favorit saya.


Opini lainnya, kesemrawutan sistem birokrasi Indonesia itu warisan birokrasi ala Belanda. Yah, sebagai abdi gupermen pun, saya mengakui betapa menyebalkan urusan surat-menyurat untuk sampai pada pihak yang dituju. Tapi saya berpikir lagi, seberapa jauh sejatinya sistem Belanda merasuk dalam raga negeri ini. Dan mengapa yang tertinggal itu yang buruk-buruk saja? Kalau virus influenza saja rajin bermutasi, dan bakteri E.coli bisa fleksibel jadi agen pembuatan macam-macam hormon dan enzim, kenapa kita dari dulu begini-begini saja?


Belanda, mantan penjajah kita yang negerinya rawan banjir itu, yang masih punya raja-ratu, masih giat mencipta. Selain mewariskan kenangan kolonial di tanah-tanah bekas jajahannya dan gedung-gedung berarsitektur khas, bangsa itu terus mencipta dan menggelinding. Kita, selayaknya jua terus menggelinding, bermutasi, dan tentu saja, mencipta.



The eye of human being is a microscope, which makes the world seem bigger than it really is.” – Kahlil Gibran



Tulisan ini juga ada di :
http://sittafiakhsanitaqwim.blog.friendster.com/2010/04/koloni-belanda-koloni-bakteri-dan-beri-beri/
dan
http://www.facebook.com/note.php?note_id=386679294421


21 komentar:

  1. Mungkin Belanda seperti bakteri gram negatif, dengan sistem membran ganda yang menganalogikan kontennya yg kompak dan solid, sedangkan kita dengan 1 lapisan membran sehingga mudah mendapat pengaruh luar.
    Pada akhirnya, apakah Belanda sekompleks negari ini?

    BalasHapus
  2. asdasdasd -> Mantra Pertamax
    Pertamax Gagal....

    Eits,,,ngomongin Belande nih,,,,
    Klo bahasa Betawinya mah "Kompeni",,,bisa dianalogikan juga "Rese'"....

    Overall,,,goooodddddd.......

    BalasHapus
  3. Belanda --> Barra Pattiradjawane (turunan bld) --> pannekuk, klappertart, crepes --> jadi 'GULA GULA' deh..

    BalasHapus
  4. slurrrrpppp... bukannya Farah Quinn zii??
    Eh besok ada Gula-Gula kan?? Kapan ya kita Duo Chef lageeeee? ;)

    BalasHapus
  5. Banyak yang bilang "kita di jajah Belanda sih..," makna yang konotatif gw rasa-akibatnya Indonesia jadi kacau balau-semua kejelekan di nusantara ini sepertinya akibat perbuatan Belanda di jaman dulu.

    Tapi Belanda tetap menjadi negeri yang mempesona. keahlian menambah luas daratannya, kincir angin hingga alamnya yang kayaknya (kayaknya iya) bebas polusi....bikin gw sangat pengen nyobain jadi universitas di sana. kayak gimana sih mereka belajar?
    akhirnya gw tidak peduli dengan kalimat "Kita di jajah Belanda sih.." :D

    BalasHapus
  6. Idenya orisinal, membandingkan koloni bakteri dengan koloni Belanda. :D

    BalasHapus
  7. Ta, waktu perjalanan ke Belanda kemarin, kebetulan duduk di sebelah seorang sutradara teater yang sering bikin pertunjukan di Thailand. Dia tanya, kenapa sih orang Indonesia banyak yang gak suka sama orang Belanda? hehehe lha aku jadi mikir, rupanya banyak orang Belanda mengira mereka tidak disukai di Indonesia.

    Dia bilang, kenapa Indonesia tidak memanfaatkan kedekatan sejarah dengan Belanda. Banyak bantuan yang ingin diberikan orang-orang Belanda ke Indonesia.

    Di Belanda, aku heran akan kebiasaan mereka bersepeda. Sayang sekali, kebiasaan baik ini tidak menular ke bekas koloninya, Indonesia.

    BalasHapus
  8. Oh, ya. Sebagai negeri kincir angin... di sepanjang jalan dari Denhaag menuju Amsterdam atau Volendam, jarang sekali terlihat kincir angin seperti yang ada di kartu-kartu pos.

    Sepanjang menuju Volendam, ada satu kincir angin, dan fungsinya terutama untuk tempat berpose bagi wisatawan. Ada juga kincir angin modern. Angin di Belanda memang luar biasa, pantas penduduk di sana memanfaatkan energinya.

    BalasHapus
  9. Hmmm.. padahal aku ga sebel sama orang Belanda lho Mbak... Ternyata orang Belandanya merasa rikuh juga ya? :D

    Iya di Indonesia orang pada ga doyan naek sepeda, mungkin karena lingkungannya ga enak buat sepedaan. Banyak juga kan yang ngetawain pecinta 'Bike to Work', hehe.. Kadang-kadang aku juga kagum sih, liat pelaku 'Bike to Work' itu nenteng2 sepeda dan berpeluh di KRL ;)

    Angin di Indonesia dijadiin Angin Mamiri doang kali mbak... hihihi...

    BalasHapus
  10. ita_goofy@yahoo.com30 April 2010 pukul 23.33

    keren..keren bu...makin banyak waktu nulis nie ibu pjabat satu ini...scr krja digopermen...hehehehehe..bakalan muncul deh ide2 kritikannya...ayo semangat jd pkritik biar bs merubah kbiasaab buruk para pegawai2 gopermen...(ko g kemn2 cie ngomongnya...hehehehe..pisss ah..)
    Tulisan lo bisa aja mnyangkut2in dari cerita lucu..trus serius apalg bawa2 pengetahuan yg aneh2..yg kdg ada yg g lupa2 ingat dan yg ga g tau sama sekali...lmyn nambah pengetahuan g..meski ga bakalan masuk ke otak g..scr ga bklan ada yg ngetes n lo jg ga bklan ngasih kuis kan bagi org yg baca...hehehehe..
    tetep ya idealis pribadi slalu kelihatan disetiap tulisan...maklum mantan..ato EX wartawati politik...wakakakakaka....
    Saran g yg utama...SERING2 LAH MEMBUAT TULISAN APALAGI BISA JADI NOVEL...soalnya lumayan bwt bahan bacaan g sbelum tidur..hehehehe..jdnya g ga perlu beli Novel kan ngirit tuh...hehehehe
    Mudah2an Belanda Bisa lo takluk kan...jd mimpi qt bs tcapai...(msh ingat kan???..)
    G akan slalu tunggu hasil Tulisan lo...Semangat Ibu Pejabat....!!!

    BalasHapus
  11. Belnda memang seperti bakteri yang merdeka. Merdeka mencipta tanpa batas dan kekang. Sementara kita, bangsa indoensia, mungkin sudah ditakdirkan menjadi bangsa mikroba yang beku dan baku. Tanpa bisa begerak dan mencipta. mental bangsa ini adalah mental jajahan yang tertindas. Yang hanya bisa disuruh untuk berkerja, seperti meniup kincir anginnya holland bakery.

    BalasHapus
  12. aku rasa salah satu kelemahan bangsa kita adalah cenderung untuk mencari pihak yang bisa disalahkan. Termasuk milih dijajah sama Inggris *milih kok ya dijajah :D*

    Peninggalan Belanda byk kok sing apik, kita aja yg ndak genah ngurusinnya: sistem gorong2, kanal2 (yg skrg mampet pet pet), bangunan2 kolonial yg kokoh n cantik (yg musti ngalah sama mal2, apartemen n gdg2 ktr), sistem kereta api yang sampe ke pelosok2 (beberapa paling tidak sekarang mulai dibangkitkan lagi menjadi kereta wisata antik).

    Hayooo, gelinding bareng2 yuuukkk :)
    G luck ya Sit!

    BalasHapus
  13. cihuy ni mbak'e, gw suka judulnya " koloni bakteri & koloni belanda", meski rada ga serima dengan beri2. hehehe.

    bagus jg lo mengangkat opini ttg "dulu kita dijajah belanda si, bukan inggris". Kadang gw pengen teriak "Ya udah, sono lo minta dijajah inggris aja sekarang". Hahaha.
    Ga bener banget ni orang Indonesia,,, kesalahan sendiri yg ga berhasil mengambil ilmu, malah nyalahin orang lain.
    Anehnya, kita rasanya hanya mengambil ilmu2 buruk dari Belanda, bukan yg baik2.
    Kita ikut2an memiliki birokrasi yg ribeeeeeetttt (ky belanda), tp ga ikutan "bike to everywhere" ky di belanda.
    Ngemeng2 soal birokrasi,, sampe skrg gw blm ngurus SP apoteker gw lho,,, rebet mnrt gw. Kata emak gw, "Ndhuk,, ndhuk,, sekolahnya aja biar jd apoteker udah ribet, tega banget tu pemerintah bikin ribet lg setelah lulus. Dasar Indonesia".

    Ayo mba'e, tularkan pemikiran lo ini ke kolega2 lo,,, janganlah ribet2 jd orang. Hilangkan moto "Kalo bisa dipersulit knp dipermudah?" GRRRRRRRR,,,,

    Anyway, trims atas infonya ttg blog ini. Kalo lo pnya tulisan lain, ntar gw komen lg yaw.

    PS: akibat kegaptekan gw, gw sll gagal memposkan komen ini,,, jd ga pake google address adek ge.
    This is me, mba'e,,, nia

    BalasHapus
  14. Belanda->Holland Bakery->Kolonial->penelitian->Penicillium purpurogenum->mikroskop->Leeuwenhoek->mikroba oportunis namun bermanfaat->mikroskop->jejak2 kehidupan kayu tetumbuhan->iseng2nya Leeuwenhoek->petuah prof pembimbing->bangsa koloni->bureaucracy->mutasi virus infulenza n bakteri E. coli->perbandingan belanda n bangsa kita,,,

    sekian rangkuman dari saya, silahkan dinilai ya....=p

    BalasHapus
  15. hehehe... hai pengamat..dikau pakai lensa dengan perbesaran berapa kali neh? thanks rangkumannya.. jadi kangen lab mikro deh ^o^

    BalasHapus
  16. Iya bu gupermen... ini memang bangsa koloni, apa bedanya Inggris, Belanda atau Jepang sekalipun dengan Un*l*v*r, Exx*n, Fr**port, dan bla-bla-bla...

    BalasHapus
  17. kucuri sepenggal waktu.
    Tulisan adalah sumber inspirasi untuk mengaduk-aduk memori.
    Jika kamu tanya apa yang terpikir olehku tentang Belanda, maka ada dua jawaban buatmu:
    1)Foto temenku di friendster yang berpose dibawah kincir angin.
    2)Resolusi yang kutulis th 2008. Tersebut di sana sebuah negeri yang akan kukunjungi kelak dalam rangka studi ataupun jalan-jalan.negeri yang kukagumi tata kota dan sistem lalulintasnya. Beranikah aku bermimpi bahwa sistem itu dapat ku-copy ke kota kelahiranku?
    Ngomong-ngomong tentang bakteri aku inget bakteriku yang teramat manja, harus disubkultur 3 hari sekali, Chromobacterium violaceum.
    Dia berbaju ungu, tersenyum manis di cawan petri pinjaman dari anak mikrobiologi (thank to Maya, mikro itb'04).

    Sitta, congatulation!!
    Pengin ngucapin terima kasih atas tulisan-tulisanmu yang jadi hiburan tersendiri saat matahari udah ngumpet dan aku masih betah di kampus untuk ngilangin capek abis praktikum.
    Analogi-analogimu atas sesuatu bikin aku terkekeh-kekeh, great!kreatif bgt!
    Realisasi bakat dan minat, tak semua orang berani beda, berjalan berkelok-kelok.

    Seorang Sitta, biologinya sekental kopi tubruk, ilmiahnya setebal farmakope!
    Gaya yang khas. Stempel yang udah dicap dihati ga akan luntur seumur hidup.

    -iChi-

    BalasHapus
  18. wow.. kopi tubruk? hihi, sekarang mungkin sudah seencer air tajin, Chi.. tidak sekemilau dulu..

    Tetap semangat ya, karena seperti bakteri, di lingkungan yang membuatnya depresi, ia akan menghasilkan metabolit sekunder, yang mungkin tidak bermanfaat apa-apa baginya, dan tanpa disadarinya.. metabolit sekunder (antibiotik dll) itu justru berguna bagi makhluk lainnya..

    Ayo kita buat metabolit sekunder kita ^o^..
    Semangat, kawan!!!

    BalasHapus
  19. Sobir Ahfad... yah, kecuali kita bisa bertahan makan ketela rebus dan ulat sagu sampai ratusan tahun mendatang.. *jujur, aku pake kecap Bango, Sariwangi, Sunsilk, Vaselin, bla..bla..bla...* Lho..kok jadi iklan gini >.<

    Gimana dong??

    BalasHapus
  20. akhirnya sempet juga mampir..
    seperti yg sudah gw komenin. Tulisan ini punya asosiasi yg bagus.. men-abuse jamur2 jaman skripsi dulu untuk menggambarkan kegelisahan mbak'e di usia jigo-an yg emang very2 irritating.. entah apa yg bisa kita lakukan untuk bangsa ini.. mau ke mana bangsa ini.. mau apa kita.. do our best aja lha.. tetep semangat nulis ta..

    BalasHapus
  21. yoyoyo, jeng... kayaknya enakan jadi jamur, jadi manusia rentan jamuran nih..;p

    BalasHapus