Cari Blog Ini

Minggu, 05 Juni 2011

Sekejap di Pontianak

Dua bulan lalu saya ke Pontianak. Agak basi memang lantaran baru diceritakan sekarang. Tapi kan, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tadinya saya berharap akan menemukan destinasi wisata yang menarik di sana. Namun agenda rapat membuat saya tak sempat jalan-jalan.

Rombongan pejabat di kantor saya beberapa kali wisata kuliner makan durian. Saya benci durian, jadi lebih baik tidur saja di kamar hotel usai meeting. Rombongan ibu-ibu sudah heboh belanja sejak hari pertama tiba. Beberapa membeli cenderamata yang dijual di hotel. Saya tidak tertarik berbelanja. Saya lebih memikirkan foto apa yang bakal saya dapatkan.

Sebenarnya saya tertarik dengan batik Pontianak. Banyak kawan yang bilang motif Pontianak sangat khas. Namun, berkunjung ke lokasi pembuatan Batik atau melihat suku tradisional jelas tidak mungkin. Saya kan ke Pontianak untuk ikut meeting, bukannya jadi pelancong.

Satu-satunya destinasi wisata yang saya kunjungi adalah Tugu Khatulistiwa. Kondisinya agak memprihatinkan. Suasananya sepi dan atap gedungnya kurang terawat. Foto-foto di Tugu Khatulistiwa yang sepi jadi lumayan dengan adanya bos saya. Apalah artinya situs tanpa manusia sebagai objek peninggal jejak? Tampaknya si bos lumayan happy dengan jalan-jalan singkat kali ini. Lihat saja posenya :).




Tugu Khatulistiwa dan si bos yang happy


Beberapa diorama menghiasi dinding di dalam gedung Tugu Khatulistiwa. Ada juga lukisan-lukisan bocah SD yang dipajang. Namun benda sederhana yang paling saya suka, bola dunia. Rasanya sudah lama sekali saya tidak melihat benda itu. Dua foto di bawah ini mengingatkan saya pada ayah.

Dulu waktu SD di Surabaya, dua benda yang saya minta sampai merengek-rengek pada ayah adalah bola dunia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sayangnya ayah tidak menemukan edisi kamus yang saya mau, jadilah saya cukup dibelikan kamus karangan Badudu-Zain. Ayah menelepon dari meeting di Jakarta waktu itu untuk membuat saya ngiler, dengan membacakan kosakata aneh dari kamus yang sudah ia beli. Rasanya hari itu saya benar-benar kangen pada ayah dan ingin ia cepat pulang membawa oleh-oleh kamus.

Soal gambar Tugu Khatulistiwa yang dibuat anak SD ini, juga mengingatkan pada kebiasaan saya dulu. Ayah sempat bertugas di Lhokseumawe dan beberapa waktu saya terpisah darinya. Ayah meminta saya setiap minggu mengirim gambar padanya. Lalu, gambar itu dikirim ayah kembali pada saya, dengan nilai darinya, dan selembar uang sepuluh ribu. Lucu ya? Ayah memberi saya uang saku, nilai, dan semangat untuk menggambar. Sayang saya tidak menyimpan kumpulan gambar-gambar saya waktu bocah itu.




Lukisan bocah SD dan suasana dalam gedung Tugu Khatulistiwa


Oh ya, saya menghabiskan waktu di Pontianak sejak tanggal 18 hingga 21 April. Andai saya kesana untuk melancong, pasti banyak tempat menarik yang bisa saya kunjungi. Mungkin bukan destinasi wisata yang terkenal, namun setidaknya saya berharap bisa memotret kehidupan orang-orang di kota itu.




Headline koran di Pontianak dan lembar buku tamu yang nyaris kosong


Jadilah Hari Kartini saya lewatkan di Pontianak. Dan kalau memerhatikan headline koran Pro-Kalbar di atas, tepat di hari yang dirayakan perempuan Indonesia, dua orang perempuan―Nafa dan Qomariah―menghilang. Saya tidak tahu mengapa mereka menghilang karena tidak sempat membaca koran yang tergeletak di dekat buku tamu itu. Saya harus buru-buru mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Semoga saja dua perempuan Pontianak itu baik-baik saja. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar