Pagi di stasiun Tugu cukup damai. Usai mandi di stasiun, saya dan teman saya jalan-jalan keliling UGM. Kamar mandi si stasiun Tugu bersih sekali lho. Dan gratis pula. Salut untuk Ngayogyakarta Hadiningrat! Usai jalan-jalan sejenak di UGM, kami melanjutkan perjalanan ke Wonosari naik bis. Saya tiba di rumah teman saya sekitar tengah hari. Perjalanan ke pantai baru keesokan harinya.
Sepanjang perjalanan menuju pantai-pantai sekitar Gunung Kidul, saya disuguhi pemandangan bukit-bukit yang hijau. Di dalam mobil, kami berenam (teman saya dan suaminya, adik teman saya dan pacarnya, sepupu teman saya dan saya sendiri) berceloteh riang gembira. Ajeng, sepupu teman saya nyeletuk, “Yang kayak gini kok sering dibilang Gunung Kidul itu tandus sih?” Hehehe, jadi jangan salah ya.. Gunung Kidul itu indah lho!

Bukit Gunung Kidul; pagi di stasiun Tugu; dan kumbang UGM
Pantai pertama yang kami singgahi adalah Pantai Sundak. Pagi itu pantai masih cukup sepi. Saya mendapatkan beberapa gambar disini. Usai dari sini, mobil mengarah ke pantai tetangga, Sundak Kecil. Pantai-pantai di Gunung Kidul ini memang pendek-pendek garis pantainya dan mirip satu sama lain. Karakteristik pasirnya lebih kasar dibanding Sawarna. Mungkin juga karena gelombang disini lebih kencang dan pantai-pantainya lebih ramai dikunjungi.

Pantai Sundak dan Pantai Kukup
Usai dari Sundak Kecil, kami melanjutkan ke Pantai Sepanjang. Di sini pun kondisinya mirip dengan Sundak. Ajeng ngotot ingin ke Pantai Kukup. Setiba di sana, saya setuju bahwa pantai ini tipografinya cukup bagus. Sayang, pantainya penuh manusia dan laut sedang pasang.

Pantai Kukup dan Sejoli di Pantai Sundak
Kukup sudah dijelajahi, destinasi berikutnya adalah pantai Indrayanti. Pantai ini terbilang baru. Namanya berasal dari sebuah kafe. Ketika kami tiba di sana, lagi-lagi gelombang sedang tidak bersahabat. Kabarnya, sehari sebelumnya beberapa kursi kafe dihempas gelombang yang ganas. Sang gelombang bahkan hingga mencapai jalan aspal yang dinaungi jajaran pohon cemara udang.
Siang makin terik. Kami berenam memutuskan mengisi perut, makan seafood di sekitar Indrayanti. Sorenya, saya sudah harus kembali ke Yogyakarta, untuk ke ibukota dengan si ular besi.

Pantai Indrayanti; penjual topi dan penjual kelomang
Di Yogyakarta, jalan-jalan saya tentunya tak afdol tanpa ke Mirota di Malioboro. Saya tak pernah bosan dengan toko ini. Selalu ada yang bisa dibeli di Mirota. Saya kalap membeli kalung-kalung kayu etnik yang harganya bisa berkali lipat bila di Jakarta. Kenapa saya tidak berburu di lapak Malioboro? Alasannya sederhana, saya tidak suka menawar, hehehe…
Ajeng ingin makan malam di lantai 3 Mirota. Saya sendiri baru tahu kalau di lantai 3 ada restoran, namanya House of Raminten. Suasananya nyaman, sungguh etnik, temaram, ditambah harga dan rasa makanan yang oke punya. Hal yang saya sesali, saya datang ketika tidak sedang diadakan pertunjukan di situ. Rupanya restoran itu juga punya panggung pertunjukan. Lucunya, waktu saya asyik memotret, saya dikira wartawan! Oh, senangnya masih dianggap jurnalis. Profesi masa lalu saya. :)

House of Raminten dengan setting panggung dan Ajeng
Sampai jumpa lagi di kisah yang lain. Gunung Kidul Pancen Oye, Yogya Tetap Istimewa.
;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar