Cari Blog Ini

Minggu, 02 Mei 2010

Lukisan yang Tak Kunjung Jadi

Saya bukan seniman, dan tidak punya darah seni. Seperti orang pada umumnya, saya hanya pecinta keindahan. Waktu kuliah saya melukis. Iseng-iseng saja. Tidak belajar secara khusus. Apalagi soal anatomi tubuh, saya buta sama sekali. Saya ingat, suatu malam di kamar kos, tidak bisa tidur, dan memandang langit-langit kamar. Saya gelisah, bosan, dan muak dengan kuliah, dengan kampus yang begitu-begitu saja, dan dengan mata kuliah yang penuh hafalan.


Tiba-tiba saya melonjak dari ranjang. “Saya mau melukis!” Begitu pikir saya. Meski saya tidak tahu cat apa yang bagus, kanvas yang ukuran berapa, dan aliran lukisan saya nantinya seperti apa. Saya hanya merasa, malam itu, sekitar tahun 2005, saya senang sekali dan tak sabar menanti pagi.


Pulang kuliah saya ke toko buku, membeli sebuah kanvas, sekotak cat minyak, sebotol minyak, dan tiga buah kuas. Saya mengunci kamar dan memulai. Langsung saja, tidak pakai sketsa. Rasanya seperti anak kecil yang kegirangan mendapat mainan baru. Saya suka warna-warna. Lalu setelah lukisan perdana saya jadi, saya tersenyum-senyum memandanginya. Dan besoknya, teman saya yang main ke kamar kaget. “Kapan kau membuatnya?” Saya bilang semalam. Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa begitu bernafsu menandaskannya dalam semalam.


Setelah itu, saya selalu menyatroni rak buku-buku seni di perpustakaan kampus. Saya berkenalan dengan van Gogh, Monet, Dali, Picasso, dan tentu saja Affandi. Saya menenteng buku-buku seni itu kemana-mana. Saya menyendiri di pojokan kelas, duduk di deretan belakang, dan menekuri buku-buku itu. Berpikir-pikir, nanti malam ingin mencoba teknik melukis yang bagaimana. Apakah dengan kuas, memlototkan cat langsung dari tubenya, atau dengan jari-jari saya, dimana sidik jari saya tertinggal di kanvas-kanvas itu.


Saya sedih membayangkan jalan hidup Vincent van Gogh yang berliku. Betapa ia mulai melukis di usia yang tak muda lagi. Betapa tersiksanya ia menjadi beban bagi adiknya, Theo van Gogh yang sukses, dan menjadi gunjingan sesama seniman. Lalu, ketika akhirnya ia masuk rumah sakit jiwa dan memotong kupingnya sendiri, saya meneteskan air mata (hehe… melankolis sekali).


Irises

Salah satu karya van Gogh yang tak pernah bosan saya pandangi.


Tapi berkat van Gogh, hari-hari saya di kampus jadi lebih berwarna. Di laboratorium, sambil menunggu reaksi-reaksi kimia di labu Erlenmeyer, saya membayangkan nanti malam akan melukis apa. Puncaknya suatu hari, saya nekat mengadakan pameran lukisan di kampus. Bukan hanya lukisan saya sendiri, tapi juga lukisan teman-teman seangkatan saya. Saya memprovokasi mereka untuk melukis perdana. Uang penjualan lukisan dipakai untuk kegiatan angkatan. Setelah pameran itu, saya sempat mendapat pesanan lukisan dari dosen dan untuk wisma di lingkungan kampus. Wow, duitnya untuk ukuran mahasiswa benar-benar lumayan! Lalu, saya ingat van Gogh lagi. Betapa ia sering kelaparan hanya demi membeli kanvas dan cat minyak. Sedangkan saya yang dengan kurang ajarnya asal melukis, masih bisa menjual lukisan saya yang sama sekali tak bermutu itu dengan harga ala kadarnya.


The Starry Night

van Gogh itu memang bintang di malam hari.

Bintang yang sudah lama mati tapi sinarnya masih menerangi hingga ratusan tahun kemudian.


Selama kuliah, kamar saya dibilang mirip galeri lukisan. Tapi suatu hari, mood melukis saya hilang. Entah mengapa, saya tidak tahu. Sampai sekarang, masih ada tiga kanvas kosong yang teronggok di sudut kamar. Ada segurat sketsa di kanvas-kanvas itu. Botol minyak yang masih penuh, belum dibuka segelnya, di sudut meja. Kuas-kuas yang mengering dan tertunduk di bawah televisi. Tube-tube cat minyak yang menggerumbul dalam sebuah kotak sepatu. Mereka semua membisu. Atau mungkin, mereka sudah letih memanggil-manggil saya.


Hei, saya akan berdoa, semoga malam ini ada bintang di langit…



2 komentar:

  1. Jadi pengen pajang lukisan di rumah, dinding-dinding gw yang polos, kali aja dia butuh teman...di kasih lukisan muka gw nan cantik, pasti mereka bersuka cita :D

    satu-satunya yang bergelantungan di dinding gw cuma jam gretongan, yang waktu itu gw dapat waktu ada acara di Grand Indonesia,
    harusnya udah turun takhta tuh jam, masa berjayanya udah abis. punya lo di simpen di mana?

    BalasHapus
  2. Jam dinding itu gue taruh di gudang lantai 3 kos gue. Eh, suatu hari, gue liat tu jam nangkring di dinding kamar induk semang gue. HUahahaha!!

    Lukisan muka lo?? Wah, nanti pasti ada jin Iprit yang menghuni lukisan itu, sereeemmm :D

    BalasHapus